Tetapi mungkin justru pekerjaan semacam itulah yang perlahan mengubah masyarakat.

Saya kira di sinilah kita sering keliru melihat sebuah daerah.

Kita lebih suka melihat yang berisik.

Yang viral.

Yang kontroversial.

Yang membuat darah naik.

Yang membuat jempol gatal menekan tombol share.

Sedangkan yang baik-baik biasanya berjalan tanpa suara.

Petani tidak membuat konferensi pers ketika berhasil panen.

Pedagang tidak membuat siaran langsung ketika tokonya laku.

Guru tidak mengunggah setiap kali muridnya berhasil.

Muballigh tidak membuat konten setiap kali selesai membina jamaah.

Turbin angin juga tidak pernah membuat status:

β€œHari ini saya kembali berputar.”

Ia memang berputar.

Setiap hari.

Karena itu saya mulai melihat Sidrap dengan cara berbeda.

Bukan berarti persoalannya tidak ada.

Ada.

Dan harus diakui.

Passobis harus diberantas.

Narkoba harus dilawan.

Kejahatan harus ditindak.

Problem sosial tidak boleh ditutup-tutupi.

Tetapi membicarakan Sidrap hanya dari sisi itu juga sama tidak adilnya dengan menutup mata terhadap masalah.

Daerah harus dilihat utuh.

Seperti manusia.

Manusia tidak bisa disebut baik hanya karena pernah melakukan kebaikan.

Juga tidak bisa disebut buruk hanya karena pernah melakukan kesalahan.

Begitu pula sebuah kabupaten.

Maka saya kira tantangan Syaharuddin bukan sekadar membuat Sidrap lebih maju.

Ada pekerjaan yang tidak kalah sulit:

membuat orang melihat kemajuan itu.

Sebab citra sebuah daerah kadang berjalan lebih cepat daripada faktanya.

Satu kasus bisa membuat nama daerah dikenal se-Indonesia.

Sementara seribu keberhasilan kecil mungkin tidak pernah keluar dari kampungnya.

Itulah pekerjaan media juga.

Bukan memutihkan yang hitam.

Bukan pula menghitamkan yang putih.

Tetapi menunjukkan keduanya.

Agar publik punya gambaran yang utuh.

Bersambung………

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini