katasulsel.com, Sidrap — Ancaman El Niño yang identik dengan kekeringan dan gagal panen tak lagi ditunggu dengan pasrah di Sidrap. Pemerintah daerah justru memilih menyerang lebih dulu—menyiapkan strategi besar yang mengubah krisis menjadi momentum.

Lewat rapat koordinasi di Aula Saromase, Senin (27/4/2026), Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengirim pesan tegas: pertanian tidak boleh tumbang hanya karena cuaca ekstrem. Jika El Niño datang membawa kekeringan, Sidrap menjawab dengan infrastruktur air.

Bukan langkah setengah hati. Pemda langsung menyiapkan “paket penuh” intervensi: irigasi perpompaan, jaringan perpipaan, embung, dam parit (long storage), hingga rehabilitasi irigasi tersier. Targetnya jelas—air harus tetap ada, sawah tidak boleh kering, produksi tidak boleh turun.

Ini bukan sekadar program rutin, tapi perubahan cara bermain. Dari pola lama yang reaktif, kini Sidrap bergerak agresif dan terukur. Tidak lagi menunggu krisis, tapi membangun sistem yang mampu mengunci dampak El Niño sejak awal.

Seluruh lini digerakkan. OPD, camat, kepala desa, hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dilibatkan untuk memastikan strategi ini tidak berhenti di meja rapat. Fokus diarahkan ke wilayah Baranti, Kulo, dan Panca Rijang—titik-titik yang dinilai paling membutuhkan intervensi cepat.

Di balik langkah ini, ada ambisi besar: bukan hanya bertahan, tapi melompat. Sidrap ingin membuktikan bahwa di tengah ancaman El Niño, sektor pertanian tetap bisa “tancap gas”.

Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, Sidrap bukan hanya lolos dari ancaman kekeringan—tapi bisa keluar sebagai daerah dengan sistem pertanian yang lebih kuat, lebih tahan banting, dan lebih siap menghadapi perubahan iklim.(*)

Pemimpin Redaksi
Mengawal kualitas, arah pemberitaan, dan independensi redaksi