Penulis:
Muthiah Raihana Corana

SIDRAP, KATASULSEL.COM — Banyak ibu hamil menganggap sakit kepala, kaki bengkak, atau pandangan kabur sebagai hal biasa selama kehamilan.

Padahal, di balik gejala yang sering dianggap sepele itu bisa bersembunyi ancaman serius bernama preeklamsia, salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Kekhawatiran inilah yang mendorong Muthiah Raihana Corana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), melaksanakan program SIGAP BUMIL (Skrining dan Edukasi Preeklamsia pada Ibu Hamil) di Posyandu Sambiloto, Desa Lampoko, Senin (27/7/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin yang fokus pada upaya pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan masyarakat.

Ancaman yang Sering Datang Tanpa Gejala Jelas

Preeklamsia bukan penyakit yang bisa dianggap ringan.

Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.

Jika terlambat dikenali, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia yang memicu kejang, stroke, gagal organ, persalinan prematur, bahkan kematian ibu dan bayi.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi salah satu langkah paling penting dalam mendeteksi risiko sejak dini.

“Masih banyak ibu hamil yang belum memahami tanda-tanda awal preeklamsia. Padahal deteksi dini dapat menyelamatkan ibu dan bayi,” ujar Muthiah.

Satu per Satu Ibu Hamil Diperiksa

Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya, program SIGAP BUMIL mengedepankan pendekatan personal.

Setiap ibu hamil yang datang ke Posyandu Sambiloto terlebih dahulu menjalani pemeriksaan tekanan darah.

Hasil pemeriksaan kemudian dijelaskan secara langsung sehingga peserta mengetahui kondisi kesehatannya masing-masing.

Setelah itu, Muthiah memberikan edukasi secara individual atau one by one, memungkinkan para ibu hamil berdiskusi lebih leluasa mengenai kondisi kehamilan yang mereka alami.

Metode ini membuat penyampaian materi lebih efektif karena peserta dapat memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan

Dalam sesi edukasi, para peserta diajak mengenali sejumlah tanda bahaya yang sering muncul pada kasus preeklamsia.

Di antaranya:

  • Tekanan darah tinggi
  • Sakit kepala hebat
  • Pandangan kabur
  • Nyeri pada ulu hati
  • Pembengkakan wajah dan tangan

Menurut Muthiah, gejala-gejala tersebut tidak boleh dianggap normal tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Jika muncul, ibu hamil disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Banyak Pertanyaan, Tanda Kesadaran Mulai Tumbuh

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.

Para ibu hamil aktif mengajukan pertanyaan terkait tekanan darah selama kehamilan, risiko preeklamsia, pentingnya pemeriksaan Antenatal Care (ANC), hingga langkah yang harus dilakukan ketika mengalami keluhan tertentu.

Suasana diskusi berlangsung hangat.

Pendekatan individual membuat peserta lebih nyaman menyampaikan kekhawatiran yang selama ini mereka rasakan selama menjalani masa kehamilan.

Pamflet Jadi Pengingat di Rumah

Sebagai bentuk tindak lanjut, setiap peserta menerima pamflet edukasi yang berisi hasil pemeriksaan tekanan darah sekaligus informasi penting mengenai preeklamsia.

Isi pamflet meliputi pengertian preeklamsia, faktor risiko, gejala yang harus diwaspadai, pentingnya pemeriksaan ANC, serta langkah yang harus dilakukan apabila muncul tanda bahaya.

Pamflet tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi ibu hamil untuk terus memantau kondisi kesehatannya meski telah kembali ke rumah.

Langkah Kecil, Dampak Besar

Meski dilaksanakan di tingkat posyandu desa, program SIGAP BUMIL membawa pesan besar tentang pentingnya pencegahan komplikasi kehamilan.

Melalui skrining tekanan darah dan edukasi sederhana, ibu hamil didorong untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan janinnya.

Harapannya, semakin banyak ibu yang memahami tanda bahaya kehamilan, rutin menjalani pemeriksaan ANC, serta tidak menunda mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala yang mengarah pada preeklamsia.

Sebab dalam banyak kasus, keselamatan ibu dan bayi sering ditentukan oleh satu hal sederhana: mengenali risiko sebelum terlambat. (*)

Topik Daerah:
SidrapWajoPinrangParepareBarruSoppengEnrekang
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini