Sidrap, katasulsel.com β Ada desa di ujung utara Kabupaten Sidrap yang sedang ramai dibicarakan petani.
Namanya Desa Botto.
Letaknya jauh dari hiruk-pikuk kota. Masuk wilayah Kecamatan Pitu Riase. Jalannya berkelok. Dikelilingi hamparan sawah dan perbukitan.
Tapi dari desa itulah muncul angka yang membuat banyak orang terdiam.
9,5 ton gabah per hektare.
Itu hasil ubinan yang diperoleh menjelang panen musim tanam kedua tahun ini.
Angka itu bukan angka biasa.
Banyak daerah di Indonesia masih berkutat pada produktivitas 5 hingga 7 ton per hektare. Ketika Botto menyentuh 9,5 ton, artinya desa ini sedang berbicara dalam bahasa yang berbeda.
Bahasa produksi.
Bahasa ketahanan pangan.
Bahasa masa depan pertanian.
Maka tidak heran jika Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, memilih datang langsung menghadiri Panen Raya MT II di desa tersebut, Jumat (7/8/2026).
Ia tahu, masa depan pertanian Sidrap tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di kantor pemerintahan.
Tetapi ditentukan oleh apa yang tumbuh di sawah-sawah seperti Botto.
“Saya sangat puas. Pertanian harus menjadi jalan utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi jika diperhatikan, hampir seluruh kebijakan Syaharuddin sejak menjabat memang mengarah ke sana.
Jalan diperbaiki.
Irigasi dibenahi.
Sawah baru dibuka.
Alat pertanian ditambah.
Kelompok tani diperkuat.
Targetnya satu: produksi naik.
Dari Jalan Rusak ke Sawah Produktif
Ketika Syaharuddin pertama kali memimpin Sidrap, ia mengungkapkan ada sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak.
Bagi masyarakat kota, jalan rusak mungkin sekadar soal kenyamanan.
Bagi petani, jalan rusak berarti biaya produksi naik.
Harga pupuk mahal.
Ongkos angkut tinggi.
Hasil panen terlambat sampai pasar.
Karena itu pembangunan jalan menjadi bagian dari strategi pertanian.
Hingga kini sekitar 372 kilometer jalan telah diperbaiki.
Bukan kebetulan jika kawasan pertanian mulai menunjukkan lonjakan produksi.
Kemarau? Botto Tak Mau Takut Lagi
Masalah terbesar petani Pitu Riase selama puluhan tahun adalah air.
Musim hujan berlimpah.
Musim kemarau membuat sawah mengering.
Tahun ini pemerintah mencoba mengubah cerita lama itu.
Kelompok tani akan mendapat bantuan sumur bor listrik.
Bukan satu.
Setiap kelompok direncanakan memperoleh tiga unit.
Bahkan sistem operasionalnya akan dibuat modern.
Petani cukup mengontrol pompa menggunakan telepon genggam.
Jika itu berjalan, wajah pertanian Sidrap akan berubah.
Air tak lagi bergantung pada langit.
Tiga Kali Tanam Setahun
Yang sedang dikejar sekarang bukan sekadar panen besar.
Tetapi panen lebih sering.
Program IP300 menjadi target berikutnya.
Artinya petani bisa menanam dan memanen tiga kali dalam setahun.
Jika satu hektare menghasilkan 9,5 ton dan bisa panen tiga kali, hitung sendiri berapa ton gabah yang lahir dari satu hektare lahan.
Di sinilah ambisi besar Sidrap terlihat.
Bukan hanya menjadi lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Tetapi menjadi salah satu pusat produksi beras nasional.
Penghargaan Rp3 Miliar Itu Bukan Hadiah Biasa
Dalam kesempatan yang sama, Syaharuddin mengungkapkan Sidrap baru saja menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai daerah terbaik di Pulau Sulawesi.
Hadiahnya Rp3 miliar.
Namun menariknya, uang itu tidak berhenti sebagai simbol prestasi.
Dana tersebut langsung diarahkan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pallae dan Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.
Artinya penghargaan itu kembali lagi ke rakyat.
Kembali lagi ke desa.
Kembali lagi ke sawah.
Botto Sedang Memberi Pesan
Sering kali orang membayangkan masa depan ada di kota besar.
Padahal, Jumat kemarin, masa depan itu terlihat jelas di Desa Botto.
Di hamparan padi yang menguning.
Di angka 9,5 ton per hektare.
Di petani yang mulai mengenal teknologi.
Di sawah yang dipersiapkan panen tiga kali setahun.
Dan di seorang bupati yang tampaknya belum puas sebelum Sidrap benar-benar menjadi kerajaan pangan dari timur Indonesia.
Botto sedang memberi pesan.
Bahwa jika pertanian dikelola serius, desa kecil pun bisa menghasilkan cerita besar. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
