Katasulsel.com — Tidak semua orang yang terlihat tenang sedang baik-baik saja.
Kadang, ketenangan adalah hasil dari terlalu banyak kehilangan.
Begitulah kesan yang muncul dari sosok seorang ibu muda dalam sebuah video yang belakangan beredar di media sosial.
Ia terlihat duduk serius dalam sebuah ruang sidang.
Di hadapannya, seseorang yang diduga hakim atau penegak hukum mengajukan sejumlah pertanyaan.
Ia mendengarkan.
Kemudian menjawab.
Tidak banyak ekspresi.
Tidak ada tangisan.
Hanya seorang perempuan yang terlihat berusaha tenang menghadapi situasi yang sedang dijalaninya.
Namun di balik wajah tersebut, tersimpan kisah hidup yang tidak ringan.
Perempuan itu disebut telah tiga kali menikah.
Dan tiga kali pula harus kehilangan suami karena meninggal dunia.
Pernikahan pertama memberinya seorang anak.
Kemudian suaminya meninggal.
Ia mencoba bangkit.
Menata kembali kehidupan.
Lalu menikah untuk kedua kalinya.
Seorang anak kembali lahir dari pernikahan tersebut.
Namun kebahagiaan itu kembali diuji.
Suami keduanya meninggal dunia.
Dua kali kehilangan pasangan hidup sudah merupakan ujian berat.
Tetapi kehidupan ternyata belum selesai mengujinya.
Ia kembali menikah untuk ketiga kalinya.
Tidak ada anak dari pernikahan tersebut.
Namun suami ketiganya juga meninggal dunia.
Tiga kali menikah.
Tiga kali kehilangan suami.
Dan setiap kali kehilangan datang, perempuan itu harus kembali belajar bagaimana menjalani hidup.
Sendiri.
Bersama anak-anaknya.
Dengan segala kebutuhan dan persoalan yang tidak pernah berhenti.
Mungkin karena itu, ketika wajahnya terlihat dalam video tersebut, yang muncul bukan semestinya rasa ingin tahu yang berlebihan.
Melainkan rasa iba.
Rasa hormat.
Dan pertanyaan yang jauh lebih manusiawi:
Seberapa kuat seorang ibu harus bertahan setelah kehilangan berkali-kali?
Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu jawabannya.
Sebab hanya perempuan itu yang mengetahui bagaimana hari-hari setelah suaminya meninggal.
Hanya ia yang tahu bagaimana rasanya kembali menata kehidupan.
Hanya ia yang tahu bagaimana menjelaskan kehilangan kepada anak-anaknya.
Dan hanya ia yang tahu berapa banyak air mata yang mungkin sudah jatuh tanpa diketahui orang lain.
Video yang beredar memang memperlihatkan dirinya berada dalam sebuah ruang sidang.
Tetapi video itu hanya beberapa menit.
Kehidupannya jauh lebih panjang daripada itu.
Konteks lengkap mengenai perkara yang sedang dihadapinya juga belum diketahui secara utuh.
Karena itu, kisah tersebut sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk membuat dugaan atau penilaian terhadap dirinya.
Biarkan proses hukum berjalan jika memang berkaitan dengan perkara hukum.
Yang bisa kita lihat dari sisi kemanusiaan adalah seorang ibu yang telah melewati kehilangan berulang kali.
Ia masih muda.
Namun pengalaman hidup telah membuatnya mengenal kehilangan lebih banyak daripada yang mungkin pernah dibayangkan orang lain.
Dua anak dari dua pernikahan pertama menjadi bagian dari perjalanan itu.
