Tangerang,Katasulsel.com β Komitmen TNI Angkatan Darat dalam mendukung penguatan syiar Islam dan pembinaan imam masjid kembali ditunjukkan melalui keikutsertaan salah satu prajuritnya dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Imam Masjid II Tingkat Provinsi Banten Tahun 2026. Ajang yang diselenggarakan oleh Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) ini berlangsung pada 4 Juli 2026, sementara pengumuman juara dan penyerahan hadiah dijadwalkan pada 5 Juli 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD City, Kabupaten Tangerang.
Peserta dari TNI AD tersebut adalah Shaddam Syahreza Fahlepy, anggota Yonif Mekanis 203/Arya Kamuning di bawah Brigif Mekanis 1 PIK/Jaya Sakti, Kodam Jaya. Shaddam mewakili Masjid Jami Nurul Iman dan mengikuti Cabang Musabaqah Azan, salah satu dari enam cabang yang dipertandingkan pada MTQ Imam Masjid 2026.
Ketua Panitia International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Farid F. Saenong, Ph.D., menegaskan bahwa penyelenggaraan MTQ ini merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas imam masjid menuju konferensi internasional. Ia mengatakan, “IGIC 2026 ingin menghadirkan imam masjid sebagai pemimpin umat yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tantangan kemanusiaan kontemporer. Imam harus menjadi penjaga moderasi, penggerak transformasi sosial, sekaligus diplomat peradaban yang membawa pesan Islam rahmatan lil ‘alamin kepada dunia.”
Senada dengan itu, Ketua Panitia MTQ Imam Masjid se-Provinsi Banten, H. Mas’ud Halimin, M.Ag., menyampaikan, “Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi para imam, ulama, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk memperkuat kompetensi imam masjid sekaligus menyukseskan International Grand Imams Conference 2026.”
Cabang Musabaqah Khutbah Jum’at dan Azan dinilai oleh majelis hakim yang diketuai Prof. Dr. Ahmad Thalabi Kharlie, M.H., M.A., dengan anggota Prof. Dr. Made Saihu, M.Pd.I. dan Dr. M. Shobran Zayyan, M.A.
Prof. Dr. Ahmad Thalabi Kharlie, M.H., M.A., Ketua Majelis Hakim Cabang Musabaqah Khutbah Jum’at dan Azan, mengatakan, “Musabaqah Azan bukan semata-mata perlombaan keindahan suara, tetapi juga penilaian terhadap ketepatan tajwid, fashahah, penghayatan, serta adab dalam mengumandangkan syiar Islam. Kami berharap seluruh peserta menampilkan kemampuan terbaiknya dengan menjunjung tinggi sportivitas, integritas, dan nilai-nilai ukhuwah. Melalui kompetisi ini, diharapkan lahir para muazin yang profesional, berakhlak mulia, dan mampu menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, serta pembinaan umat.”
