Makassar, katasulsel.com — Angka satu rupanya menjadi awal yang menyenangkan bagi Prof. Dr. Sukardi Weda dalam kontestasi pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada momentum Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), ia mendapatkan nomor urut 1 dalam pengundian yang diikuti tujuh bakal calon rektor.

Pengundian berlangsung dalam rapat senat tertutup di ruang sidang senat, lantai 14 Gedung Menara Pinisi, UNM.

Bagi Sukardi Weda, yang dikenal dengan julukan Profesor Pembelajar, hasil tersebut menjadi kabar menggembirakan. Ia memang berharap bisa memperoleh nomor pertama.

Prosesnya berlangsung singkat, tetapi cukup menarik. Setelah mengambil bola bernomor 1 dari wadah gelas, Sukardi mendapat kesempatan memilih satu dari tujuh gulungan kain berlogo UNM. Ia kemudian mengambil gulungan yang berada di bagian tengah.

Hasilnya sesuai harapan. Nomor urut 1 menjadi miliknya.

Namun, dalam perebutan kursi rektor, angka pertama bukan garis finis. Justru dari sinilah para kandidat mulai diuji: siapa yang memiliki gagasan paling kuat, strategi paling terukur, dan arah kepemimpinan yang paling meyakinkan bagi masa depan kampus.

Selain Sukardi Weda, enam bakal calon lainnya juga memperoleh nomor urut untuk tahapan pemilihan berikutnya.

Berikut daftar lengkapnya:

  1. Prof. Dr. Sukardi Weda
  2. Prof. Dr. Aslinda
  3. Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono
  4. Prof. Dr. Suwardi Annas
  5. Prof. Dr. Hasmyati
  6. Dr. Arifin Manggau
  7. Prof. Dr. Ismunandar

Ketujuh kandidat tersebut membawa kesempatan untuk menawarkan gagasan tentang arah pengembangan UNM dalam empat tahun mendatang, periode 2027–2031.

Sukardi Weda datang dengan ambisi yang melampaui urusan administratif universitas. Ia ingin membawa UNM menjadi World Class University Leader, perguruan tinggi yang memiliki reputasi global melalui pelaksanaan tridarma secara unggul.

Baginya, pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat harus menjadi fondasi untuk meningkatkan daya saing universitas.

Ia menyoroti posisi UNM dalam pemeringkatan nasional yang, menurut keterangannya, dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran peringkat 46. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya strategi peningkatan mutu yang lebih serius.

Targetnya bukan sekadar mempertahankan eksistensi UNM, melainkan mendorong universitas itu agar tampil lebih kompetitif di tingkat nasional dan memiliki reputasi yang diperhitungkan di dunia internasional.

Ambisi tersebut tentu membutuhkan kerja besar. Reputasi global tidak lahir hanya dari perubahan slogan atau pergantian pimpinan, tetapi dari kualitas lulusan, produktivitas riset, kekuatan kolaborasi internasional, dan tata kelola yang konsisten.

Salah satu pendekatan yang ingin diterapkan Sukardi apabila terpilih adalah Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA), kerangka manajemen mutu yang digunakan organisasi untuk mendorong kinerja dan keunggulan berkelanjutan.

Pendekatan ini menekankan sejumlah aspek penting, seperti kepemimpinan, perencanaan strategis, pengembangan sumber daya manusia, pengelolaan proses, pengukuran kinerja, dan pencapaian hasil.

Jika diterapkan secara konsisten di lingkungan perguruan tinggi, kerangka tersebut dapat membantu mengarahkan pengembangan kampus berdasarkan sasaran dan indikator yang terukur.

Tantangannya adalah memastikan konsep manajemen itu benar-benar menyentuh kebutuhan sivitas akademika, mulai dari kualitas pembelajaran hingga dukungan terhadap penelitian dan pengabdian masyarakat.

Dengan demikian, gagasan membawa UNM ke panggung dunia tidak berhenti sebagai narasi kampanye, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program kerja yang realistis dan bisa dievaluasi.

Momentum Hari Sumpah Pemuda memberi warna tersendiri bagi tahapan pemilihan rektor kali ini. Sukardi Weda mengawali langkah dengan nomor urut yang diharapkannya dan berpeluang menjadi kandidat pertama yang menyampaikan visi, misi, serta program strategisnya untuk periode 2027–2031.

Meski demikian, nomor urut tidak menentukan siapa yang akan terpilih. Keputusan tetap mengikuti mekanisme pemilihan yang berlaku di UNM.

Pada akhirnya, yang akan menjadi perhatian bukan siapa yang lebih dahulu berdiri menyampaikan visi, melainkan siapa yang mampu menawarkan arah perubahan dengan program yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan.

Sukardi Weda kini memiliki nomor satu. Pekerjaan berikutnya jauh lebih besar: meyakinkan bahwa cita-cita membawa UNM menjadi universitas berkelas dunia dapat diwujudkan melalui kerja nyata.(edybasri)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru