TIGA ribu orang itu datang hampir bersamaan. Mereka sudah di Sidrap
Oleh: Edy Basri
Pimred Katasulsel.com
Mereka bukan penonton konser.
Bukan pula rombongan wisata.
Mereka datang membawa jaket merah.
Jaket kebanggaan Universitas Hasanuddin. Disingkat Unhas.
Dan tujuan mereka hanya satu.
Sidrap.
Atau lebih tepatnya, Bumi Nene Mallomo.
Mereka sudah ada di daerah yang dipimpin Syaharuddin Alrif.
Sudah beberapa hari.
Menyebar ke desa-desa.
Masuk ke lorong-lorong kampung.
Tinggal bersama masyarakat.
Makan di rumah warga.
Berbaur dengan kehidupan yang selama ini mungkin hanya mereka baca dalam buku kuliah.
Jumlahnya tidak sedikit.
Tiga ribu mahasiswa.
Saya ulangi.
Tiga ribu.
Ini bukan angka biasa.
Menurut Pemerintah Kabupaten Sidrap, inilah jumlah mahasiswa KKN terbesar yang pernah diterima daerah ini sepanjang sejarah.
Rekor baru.
Dan rekor itu sesungguhnya berbicara banyak hal.
Sebab Universitas Hasanuddin bukan kampus kecil.
Unhas memiliki banyak pilihan.
Banyak daerah yang bisa dijadikan lokasi pengabdian.
Tetapi tahun ini, Sidrap mendapat perhatian yang sangat besar.
Pertanyaannya sederhana.
Mengapa Sidrap?
Saya justru melihat jawabannya dari sudut yang berbeda.
Karena Sidrap hari ini sedang menjadi cerita menarik.
Dulu orang mengenal Sidrap hanya sebagai daerah pertanian.
Kota beras.
Lumbung pangan.
Selesai.
Tetapi sekarang tidak lagi sesederhana itu.
Sidrap sedang bergerak.
Irigasi dibangun.
Desa-desa tumbuh.
Sektor pertanian bertransformasi.
Investasi mulai masuk.
Pemerintah daerah aktif membangun kolaborasi.
Dan yang paling penting, daerah ini mulai diperbincangkan di banyak tempat.
Mungkin karena itulah Sidrap menjadi menarik di mata kampus.
Menarik untuk diteliti.
Menarik untuk dipelajari.
Menarik untuk dijadikan laboratorium kehidupan.
Karena itu ketika lautan jaket merah memenuhi halaman Masjid Agung Pangkajene saat pelepasan, saya tidak melihat sekadar ribuan mahasiswa.
Saya melihat kepercayaan.
Kepercayaan bahwa Sidrap layak menjadi ruang belajar.
Kepercayaan bahwa masyarakat Sidrap mampu menjadi bagian dari proses pendidikan anak-anak muda terbaik Sulawesi Selatan.
Bagi mahasiswa, KKN memang bagian dari kurikulum.
Tugas kampus.
Syarat kelulusan.
Tetapi bagi masyarakat, KKN sebenarnya adalah perjumpaan.
Perjumpaan antara teori dan kenyataan.
Di kampus, persoalan sering terlihat rapi.
Ada rumusnya.
Ada metodenya.
Ada kesimpulannya.
Di desa, tidak begitu.
Masalah sering kali lebih rumit.
Ada petani yang berharap panennya tidak gagal.
Ada UMKM yang ingin berkembang tetapi terbentur pemasaran.
Ada anak-anak yang membutuhkan pendampingan belajar.
Ada persoalan kesehatan yang tidak selesai hanya dengan teori.
Dan di situlah mahasiswa belajar.
Bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai isi buku.
Namun ada sisi lain yang menarik.
Sisi yang jarang dibahas.
Tiga ribu mahasiswa berarti tiga ribu orang yang akan makan setiap hari.
Membeli kebutuhan.
Minum kopi.
Menyewa kendaraan.
Berbelanja di kios-kios desa.
Uang akan berputar.
Warung akan ramai.
Pedagang akan mendapat pelanggan baru.
Ekonomi kecil masyarakat akan ikut bergerak.
Mungkin tidak terlihat besar dari kejauhan.
Tetapi sangat terasa bagi mereka yang menjalankan usaha sehari-hari.
Karena itu, kehadiran mahasiswa KKN sesungguhnya membawa dua manfaat sekaligus.
Manfaat ilmu.
Dan manfaat ekonomi.
Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, memahami hal tersebut.
Ia meminta masyarakat menerima mahasiswa seperti keluarga sendiri.
Kalimat yang sederhana.
Tetapi mengandung makna besar.
Sebab keberhasilan KKN bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan mahasiswa.
Tetapi juga oleh keramahan masyarakat yang menerima mereka.
Yang membuat saya tersenyum justru membayangkan masa depan.
Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, sebagian dari tiga ribu mahasiswa ini mungkin sudah menjadi dokter.
Ada yang menjadi dosen.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang menjadi pejabat.
Bahkan mungkin ada yang duduk di kursi penting tingkat nasional.
Ketika itu terjadi, mereka akan mengingat banyak tempat dalam perjalanan hidupnya.
Dan saya percaya, sebagian akan mengingat Sidrap.
Mengingat rumah tempat mereka pernah menumpang.
Mengingat petani yang pernah mereka temui.
Mengingat anak-anak yang pernah mereka ajari.
Mengingat desa yang pernah menjadi ruang belajar mereka.
Pada akhirnya, tiga ribu mahasiswa ini memang datang untuk menjalankan KKN.
Tetapi bagi Sidrap, mereka lebih dari itu.
Mereka adalah tiga ribu saksi.
Tiga ribu penyampai cerita.
Tiga ribu duta yang kelak akan membawa nama Sidrap ke berbagai penjuru negeri.
Dan mungkin, itulah hasil terbesar yang tidak pernah tercantum dalam laporan akhir KKN.
Bahwa setelah mereka pulang, Sidrap akan tetap tinggal dalam ingatan mereka. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
