Sidikalang, katasulsel.com — Ketika Kabupaten Dairi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas pertanian di Sumatera Utara, masih ada satu persoalan infrastruktur yang hingga kini terus menjadi keluhan warga. Persoalan itu berada di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Pegagan Hilir, lokasi jalan provinsi yang mengalami longsor sejak beberapa tahun lalu namun belum sepenuhnya tertangani.
Bagi masyarakat setempat, jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung antarwilayah. Jalur itu menjadi urat nadi ekonomi yang setiap hari dilalui kendaraan pengangkut hasil pertanian menuju pasar dan pusat distribusi.
Namun harapan warga agar persoalan itu segera berakhir tampaknya belum terwujud.
Meski proyek penanganan longsor sempat dikerjakan pada 2024 dengan nilai anggaran yang disebut mencapai sekitar Rp1,9 miliar, warga menilai hasil pekerjaan tersebut belum menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Sebagian titik longsor disebut masih terlihat menganga dan menyisakan kekhawatiran bagi pengguna jalan.
“Proyeknya sudah pernah dikerjakan, tapi sampai sekarang belum tuntas. Masih ada bagian yang belum selesai,” ungkap seorang warga kepada wartawan, Jumat (19/6/2026).
Menurut warga, kerusakan jalan itu sebenarnya telah terjadi sejak 2022. Saat badan jalan amblas, masyarakat bahkan harus bergotong royong membuat jalur darurat agar kendaraan masih dapat melintas. Langkah itu dilakukan demi menjaga aktivitas ekonomi warga yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi hasil pertanian.
Hingga kini, kondisi ruas jalan tersebut masih menjadi perhatian masyarakat Pegagan Hilir. Mereka khawatir kerusakan yang belum sepenuhnya tertangani dapat semakin parah, terutama saat musim hujan tiba.
Karena ruas tersebut berstatus jalan provinsi yang menghubungkan Desa Sumbul Tengah dan Tiga Baru, kewenangan penanganannya berada di bawah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Di sinilah sorotan mulai mengarah kepada Muhammad Bobby Afif Nasution.
Sebagai gubernur yang membawa semangat percepatan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik, Bobby Nasution kini dihadapkan pada sejumlah persoalan lama yang diwariskan dari periode sebelumnya. Salah satunya adalah kondisi jalan longsor di Dairi yang hingga kini belum menemukan penyelesaian tuntas.
Bagi warga, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar janji atau rencana, melainkan kepastian kapan perbaikan akan diselesaikan secara menyeluruh.
Sementara itu, anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi PDI Perjuangan, Alfriansah Ujung, mengaku akan menelusuri lebih jauh instansi yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
“Saya cari dulu informasinya, lembaga mana yang mengelola kegiatan itu,” ujarnya.
Alfriansah juga menegaskan akan memberi perhatian terhadap kondisi ruas jalan tersebut mengingat kawasan Pegagan Hilir merupakan salah satu daerah yang memiliki aktivitas pertanian cukup tinggi.
Kini masyarakat Dairi menunggu langkah konkret pemerintah provinsi. Sebab bagi petani di Bukit Tinggi dan sekitarnya, persoalan ini bukan hanya tentang jalan yang rusak, melainkan tentang akses ekonomi, biaya distribusi hasil panen, dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari.
Pertanyaannya, apakah jalan longsor yang telah menjadi keluhan selama bertahun-tahun ini akan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang segera dituntaskan Bobby Nasution, atau kembali menjadi cerita lama yang terus berulang di tengah masyarakat Dairi? (*)
