Sidikalang, katasulsel.com — Di sebuah kamar sederhana di Kota Saint Petersburg, suhu dingin mulai turun. Di luar jendela, langit Rusia terlihat tenang. Ribuan kilometer dari kampung halamannya di Sidikalang, Tiro Turnip kini menjalani kehidupan yang dulu mungkin hanya sebatas angan.
Mahasiswa asal Indonesia itu saat ini tengah menempuh pendidikan S2 jurusan ekonomi di Saint Petersburg State University lewat jalur beasiswa.
Dalam wawancara bersama Katasulsel.com, Jumat (29/5/2026), Tiro banyak bercerita tentang kehidupan kuliah di Rusia. Bukan hanya soal salju atau gedung-gedung klasik Eropa, tapi juga tentang budaya akademik yang menurutnya sangat berbeda dibanding yang sering dibayangkan banyak orang di Indonesia.
Salah satu hal yang paling membuatnya terkejut adalah hubungan antara dosen dan mahasiswa.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
“Di sini dosen bisa dibantah. Mereka tidak marah dan tidak anti kritik,” kata Tiro.
Menurutnya, mahasiswa di Rusia justru didorong aktif berdebat selama argumentasi yang disampaikan logis dan memiliki dasar kuat.
“Dosen tidak merasa paling benar. Kalau kita punya pendapat berbeda dan masuk akal, mereka dengar,” ujarnya.
Dari Sidikalang ke Rusia
Perjalanan Tiro menuju Rusia bukan sesuatu yang instan.
Lima tahun lalu, ia masih dikenal sebagai siswa aktif di SMAN 1 Sidikalang. Sosoknya dikenal ramah, mudah bergaul, bahkan cukup populer karena kemampuan bernyanyinya.
Namun di balik itu, Tiro ternyata punya mimpi besar: kuliah di luar negeri.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Manajemen di Southern Federal University, ia kembali melanjutkan perjuangannya dan berhasil diterima di Saint Petersburg State University.
Persaingannya tidak main-main.
Menurut Tiro, proses seleksi melibatkan peserta dari sekitar 40 negara.
“Otak Harus Kerja Dua Kali”
Meski kini terlihat nyaman menjalani hidup di Rusia, Tiro mengaku masa awal kuliah menjadi periode paling berat dalam hidupnya.
Ia hanya punya waktu sekitar satu tahun mempelajari Bahasa Rusia sebelum masuk kelas utama.
Masalahnya, percakapan sehari-hari ternyata sangat berbeda dengan bahasa akademik di ruang kuliah.
“Awalnya sulit sekali. Penjelasan dosen harus diterjemahkan dulu di kepala. Kadang otak harus kerja dua kali,” katanya sambil tertawa.
Ia bahkan sempat tertinggal materi karena belum terbiasa dengan istilah ilmiah dalam Bahasa Rusia.
Namun perlahan, tekanan itu justru membuatnya berkembang.
Tidak Ada Dosen Jual Buku
Hal lain yang menurutnya berbeda adalah sistem belajar di Rusia yang lebih modern dan terbuka.
“Dosen di sini tidak jual buku. Semua pakai e-book atau materi digital,” katanya.
Mahasiswa juga diberi kebebasan berpikir tanpa tekanan berlebihan.
Menurut Tiro, suasana akademik seperti itu membuat mahasiswa lebih berani mengembangkan ide dan tidak hanya sekadar menghafal materi kuliah.
Hidup Mandiri di Negeri Orang
Tinggal di Rusia juga mengajarkan kehidupan mandiri.
Di Saint Petersburg, biaya hidup bisa mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Karena itu, ia memilih memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran.
“Kalau makan di restoran terus, tidak kuat,” ujarnya.
Kini, selain kuliah, Tiro juga membuka kursus online Bahasa Rusia untuk masyarakat Indonesia. Bahkan ia berhasil menulis buku panduan belajar Bahasa Rusia yang diterbitkan Gramedia.
Di balik cuaca dingin Rusia, Tiro Turnip sedang menjalani perjalanan besar seorang anak daerah: belajar, bertahan, dan membuktikan bahwa mimpi dari kota kecil juga bisa menembus dunia internasional. (*)
