Oleh: Edy Basri
Saya senang kalau mendengar ada mahasiswa yang mau turun ke desa.
Apalagi mahasiswa kedokteran.
Sebab, terus terang saja, mahasiswa zaman sekarang, (Maksud saya bukan mahasiswa kedokteran Unhas, red) lebih sering terlihat di layar ponsel daripada di lapangan.
Jempolnya aktif.
Kakinya belum tentu.
Maka ketika saya mendengar mahasiswa Kedokteran Unhas mau datang ke Sidrap untuk bakti sosial, saya langsung teringat kalimat lama.
Ilmu itu tidak cukup disimpan di kepala.
Harus sesekali dibawa jalan-jalan.
Kalau perlu masuk kampung.
Masuk lorong.
Masuk rumah warga.
Karena penyakit tidak tinggal di ruang kuliah.
Penyakit tinggal di masyarakat.
Tanggal 25-26 Juli nanti mereka akan datang.
Hups, bukan untuk demo.
Juga, bukan untuk seminar di hotel.
Mereka datang untuk memeriksa kesehatan warga.
Memberi edukasi kesehatan.
Dan yang pasti membuat banyak anak laki-laki langsung gelisah.
Sunatan massal.
Saya yakin ada anak yang sejak sekarang sudah mulai bertanya kepada orang tuanya.
“Harus ikut, kah?”
Biasanya yang lebih berani justru bapaknya.
Yang disunat malah diam.
Yang memberi semangat orang lain.
Begitulah tradisi kita.
Yang menarik dari kegiatan seperti ini sebenarnya bukan soal suntikannya.
Bukan soal obatnya.
Tetapi soal pertemuannya.
Mahasiswa bertemu masyarakat.
Teori bertemu kenyataan.
Buku bertemu kehidupan.
Karena di kampus, semua penyakit terlihat rapi.
Ada diagnosanya.
Ada teorinya.
Ada jawabannya.
Begitu turun ke lapangan, semuanya berubah.
Ada warga yang sakit tetapi tidak mau periksa.
Ada yang lebih percaya tetangga daripada dokter.
Ada yang menganggap pusing tujuh hari sebagai hal biasa.
Ada pula yang baru ke puskesmas setelah kondisinya benar-benar parah.
Di situlah mahasiswa belajar.
Bahwa dunia nyata tidak selalu sesuai isi buku.
Saya juga senang karena mereka memilih Sidrap.
Daerah ini memang sedang ramai.
Ada pembangunan.
Ada pertanian.
Ada investasi.
Sekarang ada dokter-dokter muda yang mau ikut menyumbang tenaga.
Lumayan.
Daripada hanya sibuk membuat konten “day in my life mahasiswa kedokteran”.
Sesekali buat juga “day in my village”.
Lebih bermanfaat.
Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, juga menyambut baik kegiatan itu.
Tentu harus begitu.
Kalau ada anak-anak muda datang membawa pelayanan kesehatan gratis, siapa yang menolak?
Yang penting jangan datang membawa proposal bantuan lima rangkap.
Itu lain cerita.
Bagi saya, kegiatan seperti ini punya nilai yang lebih besar daripada sekadar angka peserta.
Karena Indonesia sedang membutuhkan lebih banyak anak muda yang mau turun tangan.
Bukan hanya turun status.
Lebih banyak yang mau turun ke masyarakat.
Bukan hanya turun komentar.
Sebab kesehatan masyarakat tidak akan membaik hanya dengan unggahan Instagram.
Tidak sembuh dengan reels.
Tidak pulih dengan hashtag.
Tetap harus ada yang datang.
Tetap harus ada yang memeriksa.
Tetap harus ada yang peduli.
Dan akhir Juli nanti, mahasiswa Kedokteran Unhas memilih melakukan itu di Sidrap.
Mereka turun gunung.
Membawa ilmu.
Membawa tenaga.
Dan mudah-mudahan juga membawa cukup keberanian menghadapi puluhan peserta sunatan massal yang biasanya lebih sulit ditenangkan daripada pasien dewasa. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
