Oleh: Edy Basri

Senin pagi, biasanya menjadi hari yang sibuk bagi seorang bupati.

Ada surat yang menunggu ditandatangani.

Ada laporan yang harus dibaca.

Ada agenda yang harus dihadiri.

Ada persoalan daerah yang menunggu keputusan.

Tetapi pagi ini, 13 Juli 2026, Syaharuddin Alrif memilih memulai hari dengan cara yang berbeda.

Ia hadir sebagai sosok ayah.

Bukan Bupati Sidrap.

Bukan kepala daerah.

Bukan pejabat.

Melainkan seorang ayah yang mengantar dua anaknya masuk sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Mungkin ada yang menganggap itu hal biasa.

Memang biasa.

Justru karena biasa itulah momen tersebut terasa penting.

Sebab jabatan setinggi apa pun tidak pernah menghapus peran seseorang di dalam keluarganya.

Di rumah, anak-anak tidak memanggilnya “Pak Bupati.”

Mereka memanggilnya ayah.

Dan pagi itu, dua anaknya membutuhkan kehadiran seorang ayah.

Bukan seorang pejabat.

Di Sekolah Islam Athirah Baruga, Makassar, suasana terlihat sama seperti sekolah-sekolah lain di Indonesia.

Ramai.

Penuh senyum.

Penuh harapan.

Ada anak yang antusias.

Ada yang masih malu-malu.

Ada pula orang tua yang diam-diam lebih gugup daripada anaknya sendiri.

Syaharuddin berdiri di tengah suasana itu.

Mendampingi putra-putrinya yang memulai jenjang pendidikan baru.

Satu masuk SMP.

Satu lagi mulai menapaki bangku SD.

Dua fase penting dalam kehidupan seorang anak.

Dan seperti banyak ayah lainnya, ia ingin hadir di momen tersebut.

Karena waktu tidak bisa diulang.

Hari pertama sekolah hanya terjadi sekali.

Masuk SD pertama kali hanya sekali.

Masuk SMP pertama kali juga hanya sekali.

Kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan.

Di tengah kesibukan memimpin daerah, Syaharuddin tampaknya memahami satu hal sederhana.

Bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal.

Tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah.

Kadang mereka hanya membutuhkan kehadiran.

Dan kehadiran seorang ayah sering kali lebih berharga daripada banyak nasihat panjang.

Ada pesan yang menarik dari momen ini.

Bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pembangunan fisik yang terlihat.

Tetapi juga dari bagaimana ia menjaga keluarganya.

Karena keluarga adalah sekolah pertama.

Tempat anak belajar disiplin.

Belajar menghormati orang lain.

Belajar bermimpi.

Belajar tentang kehidupan.

Syaharuddin sendiri berharap anak-anak memulai tahun ajaran baru dengan semangat belajar dan semangat meraih prestasi.

Pesan yang sederhana.

Namun sangat relevan.

Sebab hari ini, yang menentukan masa depan daerah bukan hanya kebijakan pemerintah.

Tetapi juga kualitas generasi mudanya.

Dan generasi muda yang kuat lahir dari keluarga yang kuat.

Karena itu, pagi kemarin bukan sekadar cerita seorang bupati mengantar anak sekolah.

Lebih dari itu.

Ini adalah cerita tentang seorang ayah yang tidak ingin kehilangan momen penting dalam kehidupan anak-anaknya.

Tentang seorang pemimpin yang memahami bahwa membangun masa depan tidak selalu dilakukan dari ruang rapat.

Kadang dimulai dari menggandeng tangan anak menuju gerbang sekolah.

Dan pagi itu, sebelum kembali memikirkan Sidrap, Syaharuddin Alrif terlebih dahulu memastikan tugas terpentingnya berjalan baik.

Menjadi ayah. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini