Oleh : Dinda Fatimah Zahra

Di acara pameran seperti Dekranas, semua daerah biasanya tampil cantik.

Stan dihias.

Lampu dipasang.

Produk disusun rapi.

Pejabat datang dengan senyum terbaik.

Kalau tidak hati-hati, pengunjung bisa bingung.

Karena hampir semua daerah mengaku punya produk unggulan.

Semua mengaku terbaik.

Semua mengaku potensial.

Semua mengaku siap mendunia.

Masalahnya, pasar tidak membeli slogan.

Pasar membeli kualitas.

Dan di situlah tantangan sebenarnya.

Minggu kemarin, Bupati Wajo Andi Rosman hadir di penutupan HUT ke-46 Dekranas di Makassar.

Acara besar.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian hadir.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman hadir.

Kepala daerah dari berbagai kabupaten dan kota juga hadir.

Singkatnya, panggungnya besar.

Dan ketika mendapat kesempatan berbicara soal daerahnya, Rosman tidak perlu berpikir lama.

Ia langsung mengeluarkan kartu truf Wajo.

Sutera.

Kalau daerah lain sibuk mencari identitas, Wajo sebenarnya sudah menemukannya sejak lama.

Masalahnya bukan lagi soal dikenal atau tidak dikenal.

Sutera Wajo sudah terkenal.

Bahkan sejak banyak pejabat hari ini belum lahir.

Yang menjadi soal adalah bagaimana membuat sutera itu tetap hidup.

Tetap laku.

Tetap dicari.

Karena sejarah panjang tidak otomatis membuat barang tetap dibeli.

Lihat saja banyak produk legendaris yang akhirnya tinggal cerita.

Dikenang.

Dibanggakan.

Lalu perlahan menghilang.

Rosman tampaknya paham betul ancaman itu.

Karena itulah ia tidak hanya bicara soal pelestarian.

Ia bicara soal kualitas.

Nah, ini menarik.

Sebab kualitas adalah kata yang paling sering diucapkan dalam seminar.

Tetapi paling sulit diwujudkan di lapangan.

Meningkatkan kualitas berarti meningkatkan desain.

Meningkatkan kualitas berarti memperbaiki pemasaran.

Meningkatkan kualitas berarti membuat produk lokal mampu bersaing dengan produk luar.

Dan itu tidak semudah memasang spanduk “Bangga Buatan Indonesia”.

Apalagi dunia sekarang kejam.

Pembeli tidak peduli apakah sebuah kain ditenun dengan penuh cinta.

Pembeli hanya peduli satu hal.

Bagus atau tidak.

Layak dibeli atau tidak.

Karena itu, ketika Rosman berbicara tentang masa depan sutera Wajo, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya selembar kain.

Tetapi nasib ribuan penenun.

Nasib UMKM.

Nasib keluarga yang menggantungkan hidup dari industri tersebut.

Mari bicara blak-blakan.

Kalau sutera Wajo hanya dipajang di pameran, itu belum cukup.

Kalau hanya dipakai saat acara adat, itu juga belum cukup.

Kalau hanya dibanggakan dalam pidato, itu jelas tidak cukup.

Sutera harus laku.

Harus menghasilkan uang.

Harus membuka lapangan kerja.

Harus membuat ekonomi bergerak.

Kalau tidak, semua cerita tentang kejayaan sutera hanya akan menjadi romantisme masa lalu.

Dan pasar tidak pernah membeli romantisme.

Pasar membeli produk yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Karena itu, langkah Rosman membawa sutera Wajo ke panggung Dekranas sebenarnya bukan soal pameran.

Bukan soal foto bersama menteri.

Bukan soal seremonial tahunan.

Ini soal mencari pembeli.

Mencari pasar.

Mencari masa depan.

Karena pada akhirnya, daerah tidak akan maju hanya dengan menjual janji.

Daerah maju karena mampu menjual produknya.

Dan untuk Wajo, produk itu masih sama seperti puluhan tahun lalu.

Sutera.

Bedanya, kali ini targetnya bukan lagi pasar kampung.

Melainkan pasar dunia. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Wajo terbaru di sini