Luwu Utaraβ Stunting tidak datang tiba-tiba.
Ia tumbuh pelan. Bermula dari gizi yang kurang. Dari ibu hamil yang kekurangan zat besi. Dari vitamin yang tak pernah diminum. Dari perhatian yang terlambat.
Karena itu, perang melawan stunting tidak bisa menunggu bayi lahir.
Harus dimulai sejak masih di dalam kandungan.
Kamis (9/7/2026), ribuan ibu hamil di Kabupaten Luwu Utara melakukan sesuatu yang terlihat sederhana. Mereka minum Multiple Micronutrient Supplement (MMS) secara serentak.
Hanya satu tegukan.
Tetapi pesannya keras.
Sebanyak 1.476 ibu hamil di 12 kecamatan ikut dalam gerakan tersebut. Mereka menjadi bagian dari 54.000 ibu hamil di seluruh Sulawesi Selatan yang bersama-sama memecahkan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Rekor itu memang menarik.
Tetapi rekor bukan tujuan utama.
Yang lebih penting adalah memutus rantai stunting sebelum rantai itu sempat terbentuk.
Di Command Center Kantor Bupati Luwu Utara, para ibu hamil berkumpul bersama jajaran pemerintah daerah, TP PKK, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan tenaga kesehatan. Di desa-desa, posyandu juga dipenuhi aktivitas serupa. Tidak ada yang bergerak sendiri. Semua ikut turun tangan.
Yang juga mencuri perhatian adalah kehadiran suami siaga.
Mereka berdiri di samping istri masing-masing.
Pesannya jelas.
Kehamilan bukan urusan perempuan semata. Laki-laki juga harus ikut bertanggung jawab. Jangan hanya hadir saat anak lahir. Hadirlah sejak anak masih berupa janin.
MMS sendiri bukan obat ajaib.
Ia hanya suplemen. Berisi vitamin dan mineral yang dibutuhkan ibu hamil. Tetapi jika dikonsumsi rutin, manfaatnya besar. Membantu mencegah anemia. Menopang pertumbuhan janin. Mengurangi risiko bayi lahir dengan kondisi gizi yang buruk.
Inilah langkah kecil yang dampaknya bisa sangat panjang.
Luwu Utara sadar, membangun generasi unggul tidak dimulai dari ruang kelas.
Bukan pula dari bangku kuliah.
Tetapi dari kandungan seorang ibu.
Kalau fondasinya kuat, peluang melahirkan generasi sehat akan jauh lebih besar.
Karena itu, yang sedang diperjuangkan hari itu bukan sekadar selembar piagam MURI.
Yang sedang diperebutkan adalah masa depan anak-anak yang bahkan belum membuka mata. (*)
