Bondowoso – Katasulsel.com– Video Danil Abdul Azis (23) berkeliling menjajakan cilok (Baso Tusul) mendadak viral di media sosial. Warganet menjulukinya “CEO yang menyamar” setelah mengetahui pemuda asal Desa Patemon, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso, Jawa Timur, itu tinggal di rumah mewah dan berasal dari keluarga yang hidup berkecukupan. Namun, di balik sorotan tersebut, ada prinsip hidup yang justru menjadi alasan mengapa ia tetap memilih berdagang.
Alih-alih menikmati kenyamanan yang dimilikinya, Danil memutuskan mencari nafkah dengan usahanya sendiri. Bahkan, keputusannya sempat ditentang oleh sang mertua yang merasa kebutuhan hidup keluarganya telah tercukupi.
“Prinsip bahwa 100 persen hidup saya adalah 100 persen tanggung jawabnya saya sendiri,” ujar Danil.
Baginya, bekerja bukan semata soal memenuhi kebutuhan ekonomi. Berjualan cilok menjadi cara untuk membuktikan bahwa kemandirian tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga ataupun kondisi finansial.
Keputusan tersebut awalnya tidak mudah diterima. Sang mertua berharap Danil tidak perlu berjualan karena keluarga masih mampu menanggung kebutuhan mereka. Namun, bersama sang istri, ia tetap memilih mempertahankan usahanya.
Perlahan, pandangan itu berubah. Saat penjual yang biasa membantu berhalangan hadir, Danil turun langsung menjajakan cilok. Seluruh dagangannya habis terjual. Momen itu menjadi titik balik yang membuat keluarganya mulai mendukung pilihannya untuk berdagang.
Popularitas di media sosial kemudian membawa berkah tersendiri. Video yang ditonton jutaan kali membuat dagangan Danil semakin dikenal. Omzet hariannya yang sebelumnya berkisar Rp250 ribu meningkat menjadi sekitar Rp500 ribu.
Meski demikian, Danil mengaku tidak pernah mengejar popularitas. Ia justru berharap usahanya dapat terus berkembang hingga memiliki lebih banyak gerobak dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Saya bukan CEO yang menyamar. Saya hanya pedagang pentol yang ingin mencari nafkah dengan cara yang halal,” katanya.
Fenomena yang dialami Danil memicu beragam respons di media sosial. Banyak warganet mengaku salut karena di tengah budaya yang kerap mengaitkan kesuksesan dengan jabatan, gaji, atau kemewahan, masih ada anak muda yang memilih membangun usahanya dari bawah meski memiliki pilihan untuk hidup lebih nyaman.
Kini, perhatian publik bukan lagi tertuju pada rumah mewah yang ditempatinya atau julukan “CEO yang menyamar”. Yang justru terus diperbincangkan adalah pilihan sederhana yang jarang diambil banyak orang, yaitu tetap bekerja, menjaga kemandirian, dan membuktikan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh profesinya, melainkan oleh prinsip yang dipegangnya.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
