Jakarta, Katasulsel.com — Jaden tak berhenti memanggil papa. Denies Charista sempat menjawab pelan, “Papanya kan nggak ada.” Namun bocah itu tidak berhenti. Ia justru menunjuk sebuah tas di dekatnya dan menyebutnya tas papa, seperti sedang mencari seseorang yang tak ada di hadapannya, tetapi jejaknya ia kira masih tertinggal di sekitar rumah.

Percakapan itu terekam dalam video singkat yang diunggah Denies di Instagram dua hari lalu. Durasi videonya bahkan tak sampai semenit. Tidak ada musik. Tidak ada narasi yang dibuat dramatis. Hanya obrolan kecil antara ibu dan anak.

Namun justru karena kesederhanaannya, kata “papa” dari mulut Jaden terasa menonjol.

Di awal video, Jaden berkali-kali mengucapkan, “Papa mana? Papa, papa mana?” dengan nada yang terus kembali ke kata yang sama. Denies tidak memotong. Ia tidak mengalihkan obrolan. Ia hanya menjawab singkat, “Papanya kan nggak ada. Yang penting ada mah.”

Jaden belum selesai.


Tak lama kemudian, matanya tertuju pada sebuah tas di dekatnya. Ia menunjuk benda itu sambil kembali menyebut sosok yang sejak tadi ia panggil.
“Ada tas papanya.”

Denies buru-buru membetulkan.

“Bukan, itu bukan papanya. Itu opa.”

Di situlah percakapannya terasa berubah. Jaden tidak lagi terdengar seperti anak kecil yang sekadar mengulang satu kata lalu lewat. Ia menyebut “papa”, lalu mencoba menempelkan kata itu pada sesuatu yang bisa ia lihat. Pada tas. Pada benda di dekatnya. Seolah ia sedang menyusun satu sosok yang belum benar-benar ia pahami, tetapi sudah cukup dekat untuk terus ia cari.

Unggahan pertama itu mengumpulkan 3.093 tanda suka, 111 komentar, 27 kali dibagikan, dan 24 kali diteruskan. Namun percakapan tentang “papa” rupanya tidak berhenti di satu video.

Sehari setelahnya, Denies kembali mengunggah video lain. Kali ini, satu kalimat di caption justru menjadi pengait terkuatnya:

“Kenapa mendadak nanya papa-papa mulu ya?”

Kalimat pendek itu membuat video pertama terbaca berbeda.

Pengulangan kata “papa” tak lagi terasa sebagai momen acak yang kebetulan terekam kamera. Caption itu seperti memberi tahu bahwa kata tersebut rupanya datang lagi, disebut lagi, lalu dibawa lagi ke percakapan berikutnya.

Dari situ, pertanyaannya pun bergeser. Bukan lagi sekadar, Jaden sedang ngomong apa? Melainkan, kenapa ia mendadak terus mencari papa?

Denies tidak membuka pertanyaan itu dengan penjelasan panjang. Dalam dua video tersebut, ia justru memilih tetap tinggal di ritme Jaden.

Saat anak itu menyebut “papa”, Denies menjawab. Saat Jaden menunjuk tas, Denies meluruskan. Selebihnya, ia membiarkan percakapan itu bergerak dengan bahasa sesederhana yang bisa dipahami anak kecil.

Mungkin itu pula yang membuat dua unggahan ini terasa lebih dari sekadar potongan keseharian ibu dan anak. Yang terlihat di layar sebenarnya sederhana. Seorang anak kecil menyebut “papa” berkali-kali. Seorang ibu menjawab bahwa “papanya nggak ada”.

Anak itu menunjuk sebuah tas dan menyebutnya tas papa. Sang ibu membetulkan bahwa itu tas opa. Tidak ada tangis. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada adegan yang dipaksa dramatis. Tetapi justru dari rangkaian sesederhana itu, satu hal terasa makin jelas: Jaden seperti tidak sedang melempar satu kata lalu selesai. Ia terus kembali ke kata yang sama, lalu menempelkannya pada benda-benda di sekeliling rumah, seperti sedang meraba satu sosok yang belum bisa ia jelaskan dengan utuh.

Ia belum bertanya dengan kalimat lengkap. Ia belum mengatakan, “Papa di mana?” atau “Papaku siapa?” Yang keluar baru satu kata yang sama, diulang berkali-kali, lalu dilekatkan pada apa yang ada di depannya. Namun justru pengulangan itulah yang membuat dua video Denies tinggal lebih lama di kepala penonton.

Unggahan kedua, yang dibagikan sehari setelah video pertama, juga ramai. Video itu meraih 2.849 tanda suka, 196 komentar, 38 kali dibagikan, dan 34 kali diteruskan. Di kolom komentar, banyak warganet menyoroti perubahan kecil pada Jaden. Ada yang menyebut ia mulai masuk fase banyak bertanya. Ada yang menilai ia mulai mengenali figur-figur di sekelilingnya. Ada pula yang justru menaruh perhatian pada Denies, terutama pada caranya menjawab yang pendek, tenang, dan tidak tergesa-gesa menutup percakapan.

Sebab Denies tidak mengubah momen itu menjadi panggung emosi. Ia juga tidak menolak obrolan tersebut. Ia hanya seperti menjaga agar percakapan itu tetap bergerak dalam bahasa yang bisa dipahami anak seusia Jaden, tanpa memaksanya menjadi lebih besar dari yang sanggup ditanggung seorang bocah.

Dua video itu pun saling mengunci. Yang satu memperlihatkan bagaimana kata “papa” terus keluar dari mulut Jaden. Yang satu lagi memberi tahu bahwa pengulangan itu rupanya tidak berhenti setelah video pertama selesai. Ia datang lagi, disebut lagi, dibawa lagi ke obrolan berikutnya.

Jaden menyebut. Denies menjawab.
Jaden menunjuk tas. Denies membetulkan.
Lalu video selesai. Namun pertanyaannya belum ikut padam: kenapa Jaden mendadak terus mencari papa?(*)