Enrekang, Katasulsel.com – Angka kemiskinan Kabupaten Enrekang kembali menjadi sorotan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih ada 23,09 ribu warga Enrekang yang masuk dalam kategori penduduk miskin pada tahun 2025.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, jumlah penduduk miskin Enrekang mencapai 10,73 persen dari total penduduk daerah tersebut.
Angka ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah. Sebab, di tengah potensi besar Enrekang sebagai salah satu daerah agraris unggulan Sulawesi Selatan, masih terdapat ribuan masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
BPS mencatat, garis kemiskinan Kabupaten Enrekang pada Maret 2025 berada di angka Rp451.580 per kapita per bulan. Penduduk dengan rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang berada pada angka 7,60 persen, tingkat kemiskinan Enrekang masih cukup tinggi.
Data tersebut menempatkan Enrekang sebagai salah satu daerah dengan tantangan pengentasan kemiskinan yang perlu mendapat perhatian serius, terutama dalam memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.
Padahal, Enrekang memiliki potensi ekonomi yang besar. Daerah yang dikenal sebagai Bumi Massenrempulu ini memiliki sektor unggulan seperti pertanian hortikultura, peternakan, hingga usaha mikro masyarakat.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat seluruh lapisan masyarakat. Persoalan harga komoditas, biaya produksi, akses pasar, serta keterbatasan lapangan pekerjaan masih menjadi tantangan yang harus dijawab.
Di Sulawesi Selatan, sejumlah daerah tercatat memiliki angka kemiskinan lebih tinggi dibanding Enrekang, seperti Jeneponto dengan 11,42 persen, Pangkep 11,60 persen, dan Luwu 10,97 persen.
Sementara beberapa daerah sekitar memiliki angka lebih rendah. Kabupaten Sidenreng Rappang tercatat sebesar 4,91 persen, Wajo 5,86 persen, dan Luwu Timur 5,79 persen.
Meski angka kemiskinan menjadi tantangan, data tersebut juga menjadi pijakan penting untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Penguatan sektor pertanian, pemberdayaan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta membuka peluang ekonomi baru menjadi kunci agar masyarakat Enrekang tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas.
Sebab, di balik angka 23 ribu warga miskin itu, ada ribuan keluarga yang menunggu hadirnya program nyata agar bisa menikmati pertumbuhan ekonomi daerah secara lebih merata.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
