Enrekang, katasulsel.com – Suara anak-anak memenuhi ruang kegiatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, Senin (22/6/2026).

Bukan suara bermain.

Bukan pula sekadar membaca teks.

Mereka datang membawa cerita.

Membawa pesan.

Dan membawa harapan agar budaya membaca tetap tumbuh di tengah generasi yang semakin akrab dengan dunia digital.

Sebanyak 50 peserta tingkat SD/MI sederajat dari berbagai sekolah di Kabupaten Enrekang ambil bagian dalam Lomba Bertutur Tahun 2026 yang digelar selama dua hari, 22–23 Juni 2026.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Enrekang Hj. Ratnawati Yusuf Ritangnga.

Bagi penyelenggara, lomba bertutur bukan hanya mencari siapa yang paling pandai bercerita.

Ada misi yang lebih besar.

Yakni menghidupkan kembali budaya membaca, melatih keberanian anak tampil di depan umum, serta memperkenalkan cerita rakyat, cerita daerah, dan kisah inspiratif yang memiliki nilai pendidikan dan karakter.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang Andi Ridwan, SE., M.AP mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi sejak usia sekolah.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pengembangan budaya literasi di kalangan pelajar melalui pengenalan cerita rakyat, cerita daerah dan cerita inspiratif yang mengandung nilai pendidikan, moral serta karakter bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan bertutur juga menjadi bekal penting bagi anak-anak karena tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi juga bagaimana menyampaikan ide dan pesan secara baik.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Enrekang Hj. Ratnawati Yusuf Ritangnga memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia menyampaikan bahwa lomba bertutur bukan hanya tentang mengejar gelar juara.

“Lomba bertutur ini bukan sekadar acara untuk mencari juara. Tetapi lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan melatih keberanian tampil di depan umum,” katanya.

Menurut Hj. Ratnawati, melalui kegiatan seperti ini anak-anak belajar lebih dari sekadar membaca.

Mereka belajar memahami isi cerita, menangkap nilai moral, hingga menyampaikan pesan dengan cara yang kreatif.

“Budaya membaca tidak berhenti pada kegiatan lomba saja. Semoga kegiatan ini berkembang menjadi kebiasaan memahami, menghayati, dan menyampaikan informasi secara baik dan benar,” ungkapnya.

Ia mengaku bangga melihat keberanian para peserta yang tampil membawa cerita masing-masing.

Bagi Bunda Literasi Enrekang, keberanian berdiri di depan banyak orang sudah menjadi sebuah pencapaian tersendiri.

“Kalian semua adalah anak-anak hebat yang telah menunjukkan keberanian untuk tampil dan berbagi cerita di hadapan banyak orang,” ujarnya memberi semangat.

Ia juga berpesan kepada peserta agar mengikuti lomba dengan percaya diri, menjunjung sportivitas, dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang belajar untuk berkembang.

Kepada para guru dan orang tua, Hj. Ratnawati menyampaikan penghargaan atas dukungan dan pendampingan yang diberikan kepada anak-anak.

Sebab di balik anak yang berani tampil, ada proses panjang membaca, berlatih, dan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.

Di Enrekang, panggung lomba bertutur tahun ini akhirnya bukan hanya menjadi tempat anak-anak bercerita.

Tetapi menjadi ruang kecil untuk menjaga budaya besar: budaya membaca, berpikir, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya. (fungFi)