Makassar, Katasulsel.com — Mundurnya Munafri Arifuddin atau Appi dari Partai Golkar langsung membuka babak baru dalam peta politik Sulawesi Selatan.

Nama Appi kini mulai dikaitkan dengan Partai Demokrat. Bukan tanpa sebab. Hanya dua hari sebelum kabar pengunduran dirinya dari Golkar mencuat, Ketua Dewan Pakar DPP Partai Demokrat, Alfian Mallarangeng, secara terbuka mengajak Appi bergabung ke partai berlambang mercy tersebut.

Timing itulah yang kemudian membuat spekulasi politik berkembang.

Apakah Appi benar-benar akan menjadi kader Demokrat?

Dan jika iya, apakah kehadirannya akan berujung pada kursi Ketua DPD Demokrat Sulsel?

Demokrat Sulsel ternyata punya jawaban yang cukup jelas: pintu terbuka, tetapi kursi ketua bukan sesuatu yang otomatis tersedia.

Deputi BPOKK Demokrat Sulsel, Muhammad Gunawan, mengatakan partainya terbuka terhadap siapa pun yang ingin bergabung dan berjuang bersama Demokrat, termasuk Appi.

Menurut dia, Appi merupakan figur yang memiliki pengalaman serta kapasitas politik.

“Pak Appi adalah figur yang punya pengalaman dan kapasitas politik. Tentu ini bisa menjadi energi positif bagi Demokrat,” kata Gunawan.

Namun, ada satu hal yang ditegaskan Demokrat: menjadi kader dan menjadi ketua partai adalah dua perkara berbeda.

“Bergabung sebagai kader dan menjadi ketua partai adalah dua hal yang berbeda,” tegasnya.

Bukan soal siapa paling terkenal

Pernyataan tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana Demokrat Sulsel berusaha menjaga keseimbangan antara membuka ruang bagi figur baru dan mempertahankan penghargaan terhadap kader lama.

Appi memiliki pengalaman politik dan pernah menjadi salah satu figur penting dalam kontestasi politik Makassar.

Tetapi pengalaman tersebut, menurut Demokrat, tidak serta-merta menghapus proses organisasi yang selama ini berlaku di internal partai.

Gunawan mengatakan setiap orang yang masuk Demokrat memiliki hak yang sama untuk berproses.

Tetapi hak yang sama, menurutnya, tidak berarti seseorang memperoleh keistimewaan hanya karena baru bergabung.

“Tidak ada penolakan terhadap Pak Appi. Beliau punya hak yang sama dengan kader lainnya. Tetapi hak yang sama bukan berarti hak istimewa,” ujarnya.

Kalimat itu sekaligus menjadi pesan kepada publik bahwa kedatangan Appi tidak otomatis berarti pergantian kepemimpinan Demokrat Sulsel.

Jika suatu saat Appi ingin masuk dalam bursa kepemimpinan Demokrat Sulsel, jalannya tetap harus melalui mekanisme organisasi.

“Silakan berproses. Soal siapa yang akan memimpin Demokrat Sulsel, kita serahkan kepada mekanisme organisasi,” kata Gunawan.

Ni’matullah: Demokrat tak perlu alergi terhadap figur baru

Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel Ni’matullah juga memberikan respons positif terhadap kemungkinan bergabungnya Appi.

Ia menyambut baik siapa pun yang ingin menjadi bagian dari Demokrat, termasuk Munafri Arifuddin.

Menurut Ni’matullah, Appi memiliki pengalaman dan kapasitas politik yang bisa memberikan energi baru bagi partai.

“Saya menyambut baik siapa pun yang ingin bergabung dengan Partai Demokrat, termasuk Pak Munafri Arifuddin. Beliau adalah tokoh yang punya pengalaman dan kapasitas politik,” katanya.

Namun, Ni’matullah juga mengingatkan bahwa Demokrat Sulsel tidak dibangun hanya oleh satu atau dua nama.

Ada kader yang selama bertahun-tahun bekerja, bergerak dan ikut membesarkan partai.

Karena itu, kehadiran figur baru tidak semestinya langsung diterjemahkan sebagai pergantian kepemimpinan.

“Siapa pun yang menjadi kader Demokrat memiliki hak yang sama untuk berproses dan berkompetisi,” ujarnya.

Justru di sinilah menariknya

Politik Sulsel kini memasuki fase yang menarik.

Appi keluar dari Golkar pada saat posisi dan arah kepemimpinan internal partai tersebut tengah menjadi perhatian. Di sisi lain, Demokrat muncul sebagai salah satu rumah politik yang membuka pintu.

Tetapi Demokrat tampaknya tidak ingin dilihat sebagai ā€œpelabuhan daruratā€ bagi figur yang baru keluar dari partai lain.

Partai itu justru ingin menunjukkan bahwa siapa pun yang datang harus melewati proses yang sama.

Ini membuat kemungkinan masuknya Appi ke Demokrat tidak otomatis berarti pergantian ketua.

Jika benar-benar bergabung, pertanyaan berikutnya justru akan jauh lebih menarik: seberapa jauh Appi bersedia berproses dari bawah di rumah politik barunya?

Sebab, politik tidak selalu tentang siapa yang paling populer.

Kadang, yang menentukan justru siapa yang mampu membangun kembali jaringan, memenangkan kepercayaan kader, dan melewati mekanisme organisasi.

Ni’matullah sendiri mengatakan dirinya siap mengikuti apa pun keputusan organisasi.

“Bagi saya, yang paling penting bukan siapa yang menjadi ketua. Yang paling penting adalah Demokrat Sulsel tetap solid, kuat, dan mampu memenangkan agenda politik ke depan,” katanya.

Dengan demikian, bola kini belum benar-benar berada di tangan siapa pun.

Appi punya pilihan untuk menentukan rumah politik berikutnya.

Demokrat punya pintu untuk dibuka.

Tetapi untuk urusan kursi pimpinan, kunci terakhir tetap berada pada mekanisme organisasi.

Dan justru di titik inilah episode baru politik Sulsel bisa menjadi menarik untuk diikuti. (*)