Dan di situ—tidak ada lagi siapa-siapa.
Yang bicara hanya suara.
Dan rasa.
Dangdut itu bukan cuma soal nada.
Ada cengkok.
Ada penghayatan.
Ada “greget”.
Kalau istilahnya anak dangdut: harus dapet feel.
Kalau tidak, lewat.
Selfi Yamma pasti tahu itu.
Ia tidak hanya mendengar suara. Ia “merasakan”.
Sementara penonton—yang pasti akan memadati lokasi—punya selera sendiri.
Kalau sudah tepuk tangan panjang, berarti kena.
Kalau sudah ikut goyang, berarti lolos di hati.
Di sisi lain, Wakil Bupati Nurkanaah bergerak cepat.
Rapat digelar.
Tidak hanya OPD. Tapi juga sekolah-sekolah.
Guru SMP.
Guru SMA/SMK.
Kenapa?
Karena bakat sering lahir diam-diam.
Di kelas.
Di panggung seni.
Dan kesempatan seperti ini—tidak datang dua kali.
“Jangan disia-siakan,” kira-kira begitu pesannya.
Sidrap hari-hari ini terasa ringan.
Ceria.
Seperti menunggu malam hiburan rakyat.
Tapi ini lebih dari itu.
Ini tentang mimpi yang diberi panggung.
Tentang anak daerah yang mungkin selama ini hanya jadi penonton televisi—
sekarang bisa masuk ke dalamnya.
Satu lagu.
Satu kesempatan.
Bisa mengubah segalanya.
Mic sudah disiapkan.
Panggung sudah menunggu.
Sekarang tinggal satu hal.
Siapa yang berani.
Siapa yang siap.
Dan siapa yang benar-benar punya cengkok untuk “pecah”. (*)
