Soppeng, katasulsel.com – Rabu pagi, (24/6) itu, awalnya berjalan biasa saja di Dusun Maniangpatu, Desa Lompulle, Kecamatan Ganra.

Sebagian warga berada di kebun. Sebagian lagi menjalani aktivitas harian seperti biasa.

Tidak ada yang menyangka, menjelang siang kampung kecil itu akan diselimuti asap hitam.

Sekitar pukul 10.50 Wita, kepanikan mulai pecah.

Api tiba-tiba muncul dari salah satu rumah panggung milik warga dan dalam waktu singkat menjalar ke bangunan lain yang berdiri berdekatan.

Warga berlarian.

Teriakan minta tolong terdengar dari berbagai arah.

Sebagian berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Sebagian lainnya memilih menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diangkut keluar rumah.

Namun api bergerak lebih cepat.

Menurut laporan Babinsa Desa Lompulle, Serka Asriadi, kebakaran pertama kali diketahui setelah seorang warga bernama Fitri mendengar suara ledakan kecil dari arah rumah milik Tammase.

Tak lama kemudian, asap tebal terlihat keluar dari ruang keluarga rumah tersebut.

“Warga langsung berdatangan setelah melihat asap. Tapi api sudah terlanjur membesar,” kata seorang warga.

Bangunan rumah panggung yang didominasi material kayu membuat kobaran api cepat merambat.

Ditambah lagi, rumah yang menjadi titik awal kebakaran dalam keadaan kosong dan terkunci.

Kondisi itu membuat upaya penyelamatan sejak awal nyaris tidak bisa dilakukan.

Dalam hitungan menit, api menguasai empat rumah warga.

Asap hitam terlihat dari kejauhan dan menjadi perhatian warga dari dusun-dusun sekitar.

Baru sekitar pukul 11.15 Wita, empat unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Satu unit berasal dari Posko Ganra, satu unit dari Posko Lilirilau, dan dua unit dari Posko Kabupaten Soppeng.

Petugas pemadam bersama warga bahu-membahu mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke rumah lainnya.

Sekitar pukul 12.00 Wita, api akhirnya berhasil dipadamkan.

Namun saat asap mulai menipis, pemandangan memilukan terlihat di lokasi.

Empat rumah yang sebelumnya berdiri kokoh kini hanya menyisakan tiang-tiang hangus dan tumpukan puing.

Empat rumah yang terbakar diketahui milik Daeng Sijerah (65), Tammase (33), H. Laju (41), dan Fitri (63).

Sebagian besar harta benda milik korban tidak sempat diselamatkan.

Kerugian ditaksir mencapai Rp850 juta.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, musibah tersebut meninggalkan duka mendalam bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda dalam sekejap.

Hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan korsleting listrik sebagai penyebab kebakaran.

Dugaan itu diperkuat dengan keterangan saksi yang mendengar suara ledakan kecil sebelum muncul asap dan api.

Kini, yang tersisa di Maniangpatu bukan lagi kobaran api.

Melainkan puing-puing rumah, tatapan kosong para korban, dan harapan agar bantuan segera datang untuk membantu mereka bangkit dari musibah yang mengubah hidup dalam waktu kurang dari satu jam. (*)