Oleh: Tipue Sultan

MOBIL itu nyaris menyerah.

Mesinnya masih hidup.

Rodanya masih berputar.

Tetapi tanjakan di depan terlalu berat.

Terlalu curam.

Terlalu licin.

Mobil puskesmas keliling itu akhirnya berhenti.

Diam.

Tidak bergerak lagi.

Saya melihat sopirnya, Udin, menarik napas panjang.

Di depan kami, jalan tanah membelah perbukitan.

Lebarnya hanya cukup untuk satu kendaraan.

Di kiri jurang kecil.

Di kanan semak dan pepohonan.

Tidak ada aspal.

Tidak ada beton.

Hanya tanah, batu, dan tanjakan yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk melintas.

Inilah jalan menuju Desa Bulue, wilayah Wawogalunge, di Kabupaten Soppeng.

Wilayah yang berbatasan langsung dengan Pacceke, Kabupaten Barru.

Sabtu pagi itu, saya ikut bersama tim pelayanan kesehatan Puskesmas Batu Batu yang dipimpin langsung Kepala Puskesmas, Mahmud Daming.

Tujuan mereka sederhana.

Memberikan pelayanan kesehatan.

Kalimat yang mudah diucapkan.

Tetapi ternyata tidak mudah dijalankan.

Terutama jika lokasi pelayanannya berada di ujung jalan seperti Wawogalunge.

Saat mobil berhenti, saya membayangkan rombongan akan beristirahat.

Atau mungkin memutuskan kembali.

Ternyata saya salah.

Tidak ada yang terlihat panik.

Tidak ada yang mengeluh.

Tidak ada pula yang berkata, “Kita pulang saja.”

Yang terjadi justru sebaliknya.

Para tenaga kesehatan turun.

Warga yang ikut mendampingi juga turun.

Mereka berkumpul di belakang kendaraan.

Lalu mulai mendorong.

Ada yang menarik.

Ada yang mengganjal roda.

Ada yang memberi aba-aba.

Sesekali terdengar tawa.

Sesekali terdengar teriakan penyemangat.

Keringat mulai bercucuran.

Sepatu penuh lumpur.

Tangan kotor oleh tanah.

Tetapi wajah-wajah itu tetap terlihat bersemangat.

Saya berdiri beberapa meter dari mereka.

Melihat pemandangan yang rasanya semakin jarang ditemukan.

Orang-orang yang bekerja bukan karena kamera.

Bukan karena penghargaan.

Bukan pula karena ingin viral di media sosial.

Mereka melakukannya karena memang harus dilakukan.

Karena di ujung perjalanan sana ada warga yang menunggu.

Ada balita yang harus diperiksa.

Ada ibu hamil yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Ada lansia yang menanti obat dan pemeriksaan.

Dan pelayanan itu tidak mungkin dilakukan dari balik meja kantor.

Mobil akhirnya bergerak.

Pelan.

Sangat pelan.

Lalu berhasil melewati tanjakan.

Semua bersorak kecil.

Bukan sorak kemenangan besar.

Tetapi cukup untuk menunjukkan rasa lega.

Perjalanan berlanjut.

Saya lalu bertanya kepada Udin, sopir kendaraan puskesmas keliling itu.

Ia tersenyum.

Seolah jalan seperti ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

“Memang begini jalannya,” katanya singkat.

Menurut Udin, tim Puskesmas Batu Batu sedikitnya tiga kali dalam setahun melakukan pelayanan langsung ke Wawogalunge.

Tiga kali.

Mungkin bagi sebagian orang itu angka kecil.

Tetapi setelah melihat medan yang harus dilalui, saya justru bertanya-tanya bagaimana mereka bisa melakukannya berkali-kali.

Belum lagi ada petugas kesehatan yang secara rutin datang setiap bulan.

Seorang bidan yang tetap menyambangi wilayah terpencil itu untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan.

Di tengah perjalanan saya mulai memahami satu hal.

Kita sering berbicara tentang pelayanan publik.

Sering membahas kesehatan masyarakat.

Sering membuat program dan kebijakan.

Tetapi di tempat seperti Wawogalunge, pelayanan publik memiliki wajah yang berbeda.

Wajahnya penuh debu.

Wajahnya berkeringat.

Wajahnya kadang harus mendorong mobil di tanjakan.

Karena pelayanan kesehatan di daerah terpencil bukan hanya soal obat-obatan.

Bukan hanya soal alat kesehatan.

Tetapi juga soal kemauan untuk hadir.

Dan kehadiran itulah yang saya lihat hari itu.

Ketika rombongan akhirnya tiba di lokasi, beberapa warga sudah menunggu.

Mereka datang dengan langkah santai.

Sebagian membawa anak.

Sebagian menggandeng cucu.

Mereka menyambut tim kesehatan seperti menyambut keluarga yang datang dari jauh.

Barangkali karena mereka tahu, untuk sampai ke tempat itu memang tidak mudah.

Saya kembali melihat kendaraan puskesmas yang kini terparkir di dekat lokasi pelayanan.

Tubuhnya penuh debu.

Ban-ban masih menyisakan lumpur perjalanan.

Mobil itu tampak biasa saja.

Tetapi setelah menyaksikan perjalanan tadi, saya tahu kendaraan itu membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar peralatan medis.

Ia membawa harapan.

Membawa kepedulian.

Membawa bukti bahwa negara, melalui tenaga-tenaga kesehatan di daerah, masih berusaha hadir hingga ke pelosok yang nyaris tak terlihat di peta.

Dalam perjalanan pulang, saya teringat satu kalimat yang sering kita dengar.

Bahwa kesehatan adalah hak setiap warga negara.

Hari itu, di jalan terjal menuju Wawogalunge, saya melihat bagaimana kalimat itu diperjuangkan.

Bukan dengan pidato.

Bukan dengan seminar.

Melainkan dengan tangan yang mendorong mobil di tanjakan.

Dengan sepatu yang penuh lumpur.

Dan dengan ketulusan yang memilih tetap datang, meski jalan berkali-kali mencoba menghentikan mereka.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini