Karena itulah Musda kali ini bukan sekadar memilih ketua.
Musda kali ini adalah soal mencari lokomotif baru.
Mencari figur yang mampu mengonsolidasikan mesin partai hingga ke tingkat desa.
Mencari sosok yang bisa menghidupkan kembali jaringan kekuatan politik Golkar yang selama ini menjadi DNA partai.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah Golkar akan memilih kader sendiri atau membuka pintu bagi figur eksternal?
Dari berbagai sinyal yang beredar, arah anginnya tampak mulai jelas.
Golkar Sulsel terlihat ingin mengembalikan tradisi kaderisasi.
Tradisi lama yang dulu membuat partai ini besar.
Tradisi yang menempatkan kader sebagai aset utama partai.
Dalam bahasa politik Golkar, kader yang telah lama “berkeringat di bawah pohon beringin” biasanya memiliki nilai lebih dibanding figur yang datang ketika kursi ketua mulai diperebutkan.
Karena itu, munculnya nama Ismail Aksa menjadi menarik.
Ia bukan figur impor.
Bukan pula pemain dadakan.
Ia tumbuh dalam rumah besar Golkar.
Aktif di legislatif.
Aktif di organisasi.
Dan yang paling penting, memiliki jaringan komunikasi yang relatif cair di internal partai.
Lalu bagaimana dengan Ketua DPD II Golkar Sidrap saat ini, Zulkifli Zain?
Di sinilah babak berikutnya menjadi menarik.
Nama H. Pilli—sapaan akrab Zulkifli Zain—masih memiliki pengaruh besar di Golkar Sidrap.
Ia telah dua periode memimpin partai.
Punya pengalaman.
Punya jejaring.
Dan tentu masih memiliki loyalis.
Namun sejumlah sumber internal Golkar menyebutkan bahwa H. Pilli kemungkinan tidak lagi masuk gelanggang untuk periode ketiga.
Rumor yang beredar bahkan lebih jauh.
Ia disebut-sebut akan mendapat posisi strategis di DPD I Golkar Sulsel.
Jika skenario itu benar terjadi, maka akan muncul proses regenerasi yang relatif mulus.
Tanpa turbulensi besar.
Tanpa friksi berkepanjangan.
Sebuah kondisi yang selalu diinginkan partai menjelang tahun-tahun politik.
Yang juga menarik adalah fakta bahwa Ismail Aksa menjadi kader Sidrap pertama yang secara terbuka melakukan “sowan politik” kepada IAS setelah agenda konsolidasi Golkar Sulsel mulai bergerak.
Dalam dunia politik, momentum sering kali lebih penting daripada kata-kata.
Karena siapa yang bergerak lebih dulu biasanya sedang membaca arah kompas kekuasaan.
Bersambung……….
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
