Wajo, Katasulsel.com — Kemiskinan biasanya dibicarakan dengan angka.
Berapa persen.
Berapa keluarga.
Berapa rupiah penghasilannya.
Tetapi ada cara lain untuk melihatnya.
Dari bangku sekolah.
Sebab seorang anak yang hari ini mendapat pendidikan yang layak, bisa jadi sedang memutus rantai kemiskinan keluarganya sendiri.
Itulah cerita yang sedang dimulai di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 19 Wajo, Kelurahan Uraiyang, Kecamatan Majauleng.
Senin (24/8/2026), suasana sekolah itu berbeda.
Bukan sekadar hari pertama masuk sekolah.
Bupati Wajo Andi Rosman datang membuka secara resmi Open House sekaligus Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SRT 19 Wajo.
Pukul 10.00 Wita.
Guru hadir.
Orang tua hadir.
Para siswa hadir.
Pemerintah hadir.
Aparat hadir.
Seperti ada pesan yang ingin ditegaskan sejak awal:
sekolah ini tidak boleh berjalan sendirian.
Andi Rosman menyebut MPLS bukan hanya kegiatan seremonial.
Anak-anak perlu mengenal tempat mereka belajar.
Mengenal guru.
Mengenal teman.
Mengenal suasana sekolah.
Dan yang paling penting, mulai memahami bahwa mereka sedang memasuki sebuah perjalanan baru.
“Alhamdulillah hari ini secara resmi masa pengenalan kepada siswa Sekolah Rakyat. Semoga ini menjadi awal agar peserta didik memahami suasana, pembelajaran dan mengenal satu sama lain,” kata Andi Rosman.
Kalimatnya sederhana.
Tetapi bagi anak-anak yang baru memulai perjalanan di SRT 19, mungkin justru inilah bagian pentingnya.
Hari pertama tidak harus langsung bicara tentang masa depan yang jauh.
Cukup mengenal sekolah.
Berkenalan.
Belajar.
Kemudian tumbuh.
Sekolah Rakyat sendiri merupakan bagian dari program Presiden Prabowo Subianto.
Gagasannya sederhana tetapi besar:
pendidikan dipakai sebagai salah satu jalan untuk memutus rantai kemiskinan.
Ini penting.
Sebab kemiskinan tidak selalu diwariskan dalam bentuk uang.
Kadang diwariskan dalam bentuk kesempatan yang tidak pernah datang.
Anak tidak sekolah.
Kemudian bekerja terlalu dini.
Pendidikan berhenti.
Kesempatan kerja terbatas.
Penghasilan rendah.
Lalu ketika memiliki anak, siklus yang sama bisa berulang.
Di situlah pendidikan masuk.
Sekolah membuka pintu yang sebelumnya mungkin tertutup.
Andi Rosman ingin SRT 19 Wajo menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengejar cita-cita.
Bukan sekadar tempat menerima pelajaran.
Ia juga mengingatkan agar keadaan ekonomi keluarga tidak menjadi alasan seorang anak kehilangan masa depannya.
“Jangan sampai kondisi ekonomi menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih cita-cita,” ujarnya.
Kalimat itu barangkali merupakan inti dari Sekolah Rakyat.
Karena anak tidak pernah memilih lahir dari keluarga kaya atau miskin.
Tetapi kesempatan untuk tumbuh dan belajar semestinya tidak ditentukan oleh kondisi dompet orang tuanya.
Menariknya, pembukaan SRT 19 Wajo tidak hanya dihadiri kalangan pendidikan.
Ada Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan.
Ada Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya.
Ada Dandim 1406 Wajo Letkol Inf Hariyanto.
Ada Ketua DPRD Wajo Firmansyah Perkesi.
Ada Sekretaris Daerah Wajo Armayani.
Hadir pula pimpinan instansi vertikal, jajaran OPD, camat, lurah, tenaga pendidik, guru serta orang tua atau wali peserta didik.
Banyak orang untuk sebuah sekolah.
Tetapi mungkin memang harus begitu.
Karena masalah kemiskinan terlalu besar jika hanya diserahkan kepada guru.
Guru mengajar.
Orang tua mendampingi.
Pemerintah menyiapkan kebijakan.
Dinas sosial melihat kondisi keluarga.
Aparat menjaga lingkungan.
Dan masyarakat ikut mengawasi.
Satu anak membutuhkan banyak tangan untuk tumbuh.
Bagi Wajo, keberadaan SRT 19 juga menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar.
Pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada slogan “Ayo Sekolah”.
Anak harus masuk sekolah.
Tetap bersekolah.
Menyelesaikan pendidikan.
Kemudian memiliki keterampilan untuk menghadapi dunia setelah sekolah.
Karena tamat sekolah bukan garis akhir.
Justru itu garis start.
Andi Rosman berharap peserta didik SRT 19 Wajo tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mandiri dan memiliki keterampilan.
Generasi yang bukan hanya mengubah dirinya sendiri.
Tetapi juga mampu membawa perubahan bagi keluarga dan daerah.
Mungkin suatu hari nanti, ketika anak-anak SRT 19 Wajo sudah dewasa, mereka tidak lagi mengingat detail acara MPLS pada 24 Agustus 2026.
Mereka mungkin lupa siapa yang berdiri di podium.
Lupa susunan acaranya.
Lupa jam berapa kegiatan dimulai.
Tetapi ada satu hal yang semoga tidak mereka lupakan:
hari itu mereka diberi kesempatan.
Kesempatan untuk belajar.
Kesempatan untuk bermimpi.
Kesempatan untuk memiliki masa depan yang tidak harus sama dengan masa lalu keluarganya.
Dan kalau Sekolah Rakyat benar-benar berhasil menjalankan misi tersebut, maka yang dibangun di Uraiyang bukan sekadar sebuah sekolah.
Yang sedang dibangun adalah jalan keluar.
Jalan keluar dari kemiskinan.
Dimulai dari sesuatu yang kelihatannya sederhana:
seorang anak duduk di bangku sekolah.
Membuka buku.
Belajar.
Lalu perlahan berkata kepada dirinya sendiri:
“Saya ingin menjadi sesuatu.”
Dan mungkin, dari situlah perubahan besar sebuah keluarga dimulai.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
