Enrekang, Katasulsel.com — Aula Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Enrekang, Rabu (10/6/2026), hari itu tidak sekadar menjadi tempat serah terima bantuan. Ia berubah menjadi ruang pertemuan dua dunia: harapan pemerintah dan kenyataan petani di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Enrekang menyalurkan bantuan bibit jagung tahap II kepada 42 kelompok tani. Secara simbolis, bantuan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Enrekang, Andi Tenri Liwang La Tinro, didampingi Kepala DTPHP Enrekang, Dr. Ikbar Ashadi.
Program ini disebut tidak berdiri sendiri. Ada dorongan aspirasi dari Anggota DPR RI Haji La Tinro La Tunrung yang ikut mengawal agar bantuan pertanian ini menjangkau lebih luas, dengan target pengembangan lahan sekitar 250 hektar.
Di atas kertas, angka itu terlihat rapi. Tapi di lapangan, setiap hektar berarti kerja panjang: membuka lahan, menanam, menjaga dari cuaca, hingga memikirkan biaya panen.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menegaskan bahwa bantuan bibit jagung ini adalah bagian dari upaya memperkuat ekonomi petani yang menjadi tulang punggung daerah.
“Kami berharap bantuan ini betul-betul memberi dampak. Tidak hanya ditanam, tetapi juga menghasilkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah tidak akan berhenti di tahap ini saja, melainkan akan terus mendorong keberlanjutan program pertanian di Enrekang.
Namun suasana kegiatan berubah ketika sesi dialog dibuka.
Satu per satu suara petani mulai terdengar. Bukan keluhan baru, tapi persoalan yang sudah lama mereka jalani setiap musim tanam.
Perwakilan Kelompok Tani Tunas Muda dari Desa Rossoan menyampaikan kondisi jalan tani yang masih menjadi kendala utama distribusi hasil panen. Saat hujan, akses berubah menjadi lumpur. Saat kemarau, air justru menjadi barang yang sulit dijangkau.
“Kalau hujan, kami susah bawa hasil panen. Kalau kemarau, tanaman kekurangan air,” ungkapnya dengan nada pelan namun tegas.
Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan satu masalah besar yang berulang setiap tahun.
Wakil Bupati merespons cepat. Ia meminta agar kelompok tani segera menyusun proposal resmi terkait kebutuhan infrastruktur tersebut untuk ditindaklanjuti oleh dinas teknis.
“Silakan buat proposalnya. Itu penting agar kami bisa melihat langsung kebutuhan di lapangan,” tegasnya.
Respons itu disambut tepuk tangan ringan dari para petani. Ada harapan kecil yang muncul: bahwa suara mereka tidak berhenti di ruangan itu saja.
Di balik kegiatan penyerahan bibit jagung, terlihat jelas bahwa pertanian Enrekang tidak hanya soal benih dan pupuk. Ia juga soal jalan yang bisa dilalui, air yang bisa mengalir, dan akses yang tidak memutus rantai hasil panen.
Bibit bisa datang dari program. Tapi jalan tani, bagi petani, adalah “urat nadi” yang menentukan apakah hasil kerja mereka sampai ke pasar atau tertahan di kebun.
Dan hari itu di Enrekang, bibit jagung memang sudah dibagikan. Namun pekerjaan rumah yang lebih panjang masih terus menunggu di luar aula. (*)
