M. Haris Syah, S.Pd., Gr., M.Pd.
(SD Negeri 1 Enrekang)

PENDAHULUAN

Enrekang dan Wormanen, Probur dipisahkan jarak sekitar 1.100 kilometer. Di antaranya terbentang Pulau Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, hingga gugusan Pulau Lembata, Pantar, dan Alor. Jika ditempuh dengan perjalanan udara, butuh 12-16 jam. Lewat laut, butuh sekira tiga hari.

Jauh memang.

Namun melalui layar Interactive Flat Panel (IFP) di kelas kami dan di SD Negeri Wormanen, Probur, dua ruang kelas yang berjauhan akhirnya dapat saling menyapa. Oh ya, IFP di masing-masing sekolah kami ini merupakan bantuan dari Bapak Presiden Prabowo. Bahkan koneksi internet di SD Negeri Wormanen terhubung menggunakan Starlink, yang juga merupakan bantuan pemerintah pusat.

Hari itu kami ingin menuntaskan bab terakhir mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas III. Temanya Sahabat dari Seberang. Selama ini, materi tersebut saya ajarkan seperti biasa: menjelaskan, membaca materi, tanya jawab, berdiskusi, lalu mengerjakan latihan. Tidak ada yang keliru dengan cara itu. Tujuan pembelajaran tetap tercapai. Namun, saya merasa materi ini memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk dialami langsung oleh murid-murid.

Saya kemudian menghubungi Pak Guru Suli, sahabat saya yang mengajar di SD Negeri Wormanen, Desa Probur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Saya mengajaknya mempertemukan murid-murid kami dalam satu pembelajaran. Ia langsung setuju. Kami mendiskusikan waktu yang paling memungkinkan, memastikan perangkat di kedua sekolah siap digunakan, menyusun alur kegiatan, serta menentukan hal-hal yang akan dibahas agar percakapan anak-anak mengalir secara alami.

Saat saya menyampaikan rencana itu di kelas, murid-murid langsung riuh. Mereka penasaran bukan main ketika mengetahui bahwa mereka akan belajar bersama teman-teman baru dari pulau yang belum pernah mereka kunjungi. Bermacam-macam pertanyaan pun bermunculan.

“Pak, mereka sekolahnya seperti apa?”

“Pak, di sana ada pantai?”

“Mereka bisa bahasa Indonesia?”

“Kalau selesai belajar, nanti kita masih bisa berteman, Pak?”

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa saya pancing. Sejak hari itu, setiap kali saya masuk kelas, selalu ada yang bertanya, “Jadi kapan kita bertemu teman-teman dari Alor, Pak?” Mereka benar-benar menunggu hari itu tiba.

PEMBAHASAN

Layar IFP dinyalakan. Google Meet dibuka. Beberapa murid spontan merapat ke depan. Ada yang membenarkan posisi duduknya, ada pula yang berbisik penasaran tentang teman-teman yang sebentar lagi akan muncul dari seberang layar. Ruang kelas yang semula riuh perlahan berubah hening ketika sambungan mulai terhubung.

Di layar nampak anak-anak SD Negeri Wormanen sudah duduk rapi, tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke kamera.

“Halo teman-teman semua!” seru anak-anak dari balik layar.

Pertemuan dimulai dengan saling memperkenalkan diri. Anak-anak tampak antusias. Mereka melambaikan tangan, menyebut nama, lalu saling bertanya tentang sekolah dan daerah tempat tinggal masing-masing. Sesekali sambungan tersendat. Gambar membeku beberapa detik sebelum kembali normal. Namun, gangguan kecil itu sama sekali tidak mengurangi antusiasme anak-anak. Mereka justru tertawa setiap kali suara muncul lebih dulu daripada gambar.

Pak Guru Suli kemudian mengajak kami melihat lingkungan SD Negeri Wormanen. Ruang kelasnya berdinding anyaman bambu. Lantainya masih berupa tanah. Di beberapa sudut, cahaya matahari masuk melalui sela-sela dinding. Namun, keterbatasan itu sama sekali tidak mengurangi semangat belajar mereka. Murid-murid tetap mengikuti pembelajaran dengan wajah ceria. Senyum hampir tak pernah lepas ketika mereka bercengkerama maupun menyapa kami dari balik layar.

Bak berbalas pantun, kami memperlihatkan suasana SD Negeri 1 Enrekang dan lingkungan sekitar sekolah. Anak-anak dari Probur melihat bukit yang menjulang tak jauh dari sekolah. Juga kami putarkan cuplikan video promosi potensi daerah hasil produksi Dispopar Enrekang.

Saya tunjukkan foto-foto dan video dari Alor yang sebelumnya dikirimkan oleh Pak Suli. Murid-murid kami terpesona melihat pantai Alor dengan pasir putih dan laut yang jernih. Debur ombak yang tinggi saat Pak Suli melintasi Selat Flores dengan kapal, itu bikin anak-anak kami merinding sekaligus berseru heboh.

Rafif, salah satu murid kami kemudian tampil mewakili teman kelasnya. Ia menceritakan kepada murid-murid di SD Wormanen tentang berbagai hal seputar Enrekang. Tentang topografinya, makanan khas, permainan tradisional, kegiatan di sekolah, hingga kebiasaan sehari-hari. Begitupun sebaliknya.

Sesekali teman-temannya membantu ketika Rafif lupa menyebutkan nama makanan atau permainan tradisional. Suasana menjadi cair karena mereka saling melengkapi tanpa diminta.

Pertemuan daring ini ditutup dengan refleksi serta semacam closing statement dari saya dan Pak Suli.

Sebagian murid kemudian saya minta menulis tentang apa saja yang telah mereka simak. Termasuk kosakata baru, budaya, dan lainnya. Sebagian lainnya saya minta menulis surat mewakili seluruh teman kelas, yang ditujukan kepada teman baru mereka di SD Wormanen. Isinya tentang kesan dan pengalaman berkenalan dengan ‘sahabat dari seberang’.

Surat-surat itu kemudian kami kirimkan melalui akun Instagram sekolah kepada akun Instagram Pak Suli. Saya sengaja menggunakan akun resmi sekolah karena anak usia SD belum sepatutnya memiliki dan menggunakan media sosial secara mandiri tanpa pendampingan orang tua ataupun guru. Adapun kenapa surat itu dikirimkan ke akun media sosial Pak Suli, sebab SD Wormanen belum punya akun resmi.

Di sini juga saya jelaskan etika menggunakan media sosial untuk murid, yang intinya; Aman, Sopan, dan Bijak. Diantaranya menjaga privasi dengan tidak membagikan informasi pribadi, menerapkan batas waktu bermedsos, izin orangtua, anti bullying, dan saling menghargai.
Saya ingin anak-anak memahami bahwa teknologi bukan hanya soal bisa menggunakan gawai,
tetapi juga tentang bertanggung jawab atas setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.

Saat saya mengira kegiatan hari itu benar-benar selesai, tiba-tiba sebuah tangan kecil terangkat dari jejeran bangku belakang.

“Pak, bagaimana kalau kita kirim buku dan alat tulis untuk teman-teman di SD Wormanen?”

Usul itu datang dari Afifa. Beberapa murid lain langsung menyetujuinya. Mereka mulai menyebut buku cerita, pensil, penghapus, dan perlengkapan sekolah yang ingin mereka kumpulkan.

Bagi saya, itulah hasil belajar yang paling berharga hari itu. Tidak ada indikator penilaian yang secara khusus meminta anak-anak mengusulkan aksi sosial. Namun justru gagasan itu muncul secara spontan. Artinya, pembelajaran telah menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pemahaman materi. Anak-anak tidak hanya memahami pelajaran, tetapi juga menunjukkan kepedulian melalui tindakan yang mereka usulkan sendiri.

Materi pembelajaran Sahabat dari Seberang tidak lagi menjadi sekadar pelajaran. Anak-anak sedang mengalaminya secara langsung.

Murid-murid lebih banyak bertanya, lebih berani bercerita, dan lebih mudah menghubungkan isi bacaan dengan kehidupan mereka. Mereka tidak lagi membayangkan “sahabat dari seberang” sebagai tema pembelajaran, atau sekadar bacaan dalam buku. Mereka mendapatkan pengalaman konkret yang menjawab semua CP (Capaian Pembelajaran) dari tema “Sahabat dari Seberang” yakni pengembangan kemampuan berkomunikasi, pemahaman lintas budaya, literasi digital yang aman, serta ekspresi emosi melalui teks naratif maupun informasi.

Pengalaman ini sejalan dengan teori belajar konstruktivisme yang dikemukakan Jean Piaget dan dikembangkan lebih lanjut oleh Lev Vygotsky. Pengetahuan tidak sekadar dipindahkan dari guru kepada murid, melainkan dibangun melalui pengalaman, interaksi sosial, dan refleksi atas pengalaman tersebut. Ketika murid berdialog langsung dengan teman sebaya dari daerah lain, mereka sedang membangun pemahaman baru yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru.

Lima elemen tujuan pembelajaran juga terpenuhi seluruhnya lewat kegiatan ini. Murid-murid mampu memahami ide pokok dan menyimpulkan informasi (elemen menyimak), membaca fasih, memahami kosakata baru dan menginterpretasi visual (elemen membaca dan memirsa), menyampaikan pendapat dan berdiskusi lintas budaya (elemen berbicara dan presentasi), mengungkapkan gagasan tertulis dan merespon cerita (elemen menulis), dan memahami penggunaan internet sehat dan aman, serta memahami kebhinekaan global (penguatan literasi digital dan karakter/sikap).

Jika ditinjau dari Taksonomi Bloom Revisi (Anderson & Krathwohl, 2001), aktivitas pembelajaran tidak berhenti pada tingkat mengingat (remember) dan memahami (understand), tetapi bergerak hingga menerapkan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), bahkan mencipta (create) ketika murid menulis surat kepada sahabat baru mereka. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung pada level berpikir yang lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tidak harus rumit. Perangkat digital menjadi bermakna ketika membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang sulit dilakukan melalui pembelajaran biasa. Materi pelajaran tetap sama, tujuan pembelajaran tidak berubah, tetapi cara murid memahaminya menjadi berbeda.

Dalam kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang diperkenalkan Mishra dan Koehler (2006), teknologi tidak diposisikan sebagai tujuan, melainkan sebagai bagian dari strategi pedagogis untuk memperkuat pembelajaran. Artinya, keberhasilan pembelajaran digital tidak ditentukan oleh kecanggihan perangkat, tetapi oleh kemampuan guru mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi pelajaran secara tepat.

Pengalaman ini memberi keyakinan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bukan sekadar menghadirkan perangkat di ruang kelas. Di sinilah sering saya tulis dan sampaikan kepada rekan sejawat, bahwa kita sering keliru membedakan antara pembelajaran digital dan mendigitalkan pembelajaran. Mengganti buku dengan pdf di layar, mengganti papan tulis dengan layar IFP, atau mengganti penjelasan langsung oleh guru dengan penjelasan dari video YouTube, itu semua bukan pembelajaran digital. Itu sekadar mendigitalkan pembelajaran. Lebih tepatnya mengganti peralatan analog dengan perangkat digital.

Padahal, pembelajaran digital sesungguhnya adalah bagaimana teknologi menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman belajar dengan kehidupan nyata. Ketika murid dapat melihat, mendengar, berdialog, lalu tergerak untuk berbuat baik kepada orang yang belum pernah mereka temui, saat itulah teknologi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai alat yang memanusiakan pendidikan. Sehingga terwujud pembelajaran yang mendalam. Pembelajaran yang mendorong murid belajar dengan menyenangkan (joyful), bermakna (meaningful), dan berkesadaran (mindful).

Pengalaman ini menunjukkan bahwa praktik serupa dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran tanpa harus dirancang secara rumit. Kolaborasi antarguru, dukungan teknologi yang tersedia di sekolah, serta keberanian untuk mencoba pendekatan baru sudah cukup untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih autentik dan dekat dengan kehidupan nyata.

PENUTUP

Inovasi ini berawal dari pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri: apakah IFP hanya sebatas digunakan untuk menonton YouTube dan bermain gim edukasi? Sejauh mana perangkat IFP ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk murid-murid kami? Inovasi apa yang dapat lahir dari perangkat canggih ini?

Kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan gagasan menghadirkan pembelajaran kolaboratif lintas sekolah melalui Interactive Flat Panel (IFP). Berbeda dengan pembelajaran daring yang umumnya berlangsung antara guru dan murid dalam satu sekolah, praktik ini mempertemukan dua kelas dari dua provinsi berbeda dalam satu pengalaman belajar yang sama. Murid tidak hanya memanfaatkan teknologi untuk menerima informasi, tetapi juga membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan teman sebaya dari latar geografis dan budaya yang berbeda. Di sinilah letak kebaruan (novelty) praktik baik ini.

Tentu ini dapat terlaksana berkat IFP bantuan Presiden, serta dukungan jaringan Starlink yang juga berasal dari bantuan Presiden sebagai bagian dari upaya memperluas akses internet di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Dari satu pertemuan sederhana ini, anak-anak belajar bahwa persahabatan tidak dibatasi oleh pulau, jarak, ataupun perbedaan latar belakang. Mereka menyadari bahwa Indonesia yang begitu luas dapat terasa dekat ketika teknologi dimanfaatkan untuk tujuan yang tepat. Itulah pelajaran yang saya harapkan tetap mereka ingat, jauh setelah bab Sahabat dari Seberang selesai dipelajari.

Daftar Pustaka

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Hattie, J. (2023). Visible Learning: The Sequel: A Synthesis of Over 2,100 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher Knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017–1054.

Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. New York: Basic Books.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 033/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: BSKAP.

Topik Terkait: Enrekang
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini