Makassar, katasulsel.com – Di tengah memanasnya dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan, sebuah pertemuan singkat selama sekitar 30 menit justru menjadi perhatian banyak kader.

Politikus senior Golkar, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), memilih mendatangi langsung Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin atau Appi sesaat setelah mengantongi diskresi dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk maju pada Musda Golkar Sulsel.

Bagi sebagian pengamat politik, langkah IAS ini memiliki makna yang lebih besar dibanding sekadar silaturahmi antar kader.

Sebab, secara politik, IAS sebenarnya bisa saja langsung bergerak mengonsolidasikan dukungan pemilik suara setelah memperoleh “tiket khusus” dari DPP Golkar. Namun yang dilakukan justru berbeda. Ia memilih menemui sosok yang saat ini disebut-sebut sebagai salah satu figur paling berpengaruh di Golkar Sulsel.

Langkah itu dinilai sebagai pesan bahwa pertarungan menuju kursi Ketua Golkar Sulsel tidak harus dibangun melalui konflik.

IAS bahkan secara terbuka menyebut Appi sebagai kader Golkar yang sedang bersinar. Pernyataan tersebut menarik perhatian karena disampaikan di tengah munculnya berbagai spekulasi mengenai peta dukungan menjelang Musda.

Dalam politik, pengakuan terbuka terhadap kekuatan figur lain sering kali menjadi sinyal bahwa komunikasi masih terjaga dan ruang kompromi masih terbuka.

Pertemuan tersebut juga terjadi pada momentum yang penting.

Beberapa hari sebelumnya, IAS resmi menerima diskresi dari Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia. Diskresi itu membuka jalan baginya untuk maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel meskipun secara administratif tidak memenuhi salah satu syarat karena pernah berkiprah di partai lain sebelum kembali ke Golkar.

Namun diskresi bukan berarti kemenangan otomatis.

Untuk bisa maju sebagai calon, IAS tetap membutuhkan dukungan minimal 30 persen dari pemilik suara atau DPD II Golkar kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Artinya, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai.

Di sisi lain, Appi saat ini memiliki posisi strategis. Selain menjabat Wali Kota Makassar, ia juga dianggap sebagai salah satu kader dengan pengaruh yang terus meningkat di internal Golkar Sulsel.

Karena itu, pertemuan IAS dan Appi memunculkan berbagai tafsir politik.

Ada yang melihatnya sebagai upaya membangun komunikasi sebelum kompetisi dimulai. Ada pula yang menilai pertemuan tersebut sebagai pesan bahwa Musda Golkar Sulsel sebaiknya tidak berkembang menjadi pertarungan yang memecah kader.

IAS sendiri menegaskan bahwa yang terpenting adalah menjaga keutuhan partai.

Baginya, Musda bukan sekadar ajang memilih ketua baru, tetapi kesempatan bagi Golkar menunjukkan kematangan politik kepada masyarakat.

Pesan tersebut menjadi menarik karena muncul ketika suhu politik internal mulai meningkat dan sejumlah DPD II mulai menunjukkan arah dukungan masing-masing.

Jika biasanya kompetisi internal partai identik dengan kubu-kubu yang saling berhadapan, IAS justru mencoba menampilkan pendekatan berbeda dengan mendahulukan komunikasi dan penghormatan kepada sesama kader.

Kini perhatian publik politik Sulawesi Selatan tertuju pada langkah berikutnya.

Akankah pertemuan IAS dan Appi menjadi awal terbentuknya konsolidasi besar di tubuh Golkar Sulsel, atau justru hanya bagian dari dinamika menjelang Musda yang semakin kompetitif?

Yang pasti, pertemuan dua tokoh Golkar tersebut mengirim satu pesan penting: sebelum berbicara soal kursi ketua, menjaga persatuan partai tampaknya menjadi agenda yang ingin ditonjolkan menjelang Musda Golkar Sulsel 2026. (*)