Makassar, Katasulsel.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary, Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf atau Puang Makka, menyerukan dukungan kepada Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Seruan tersebut ditujukan kepada para Rais Syuriyah dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Puang Makka meminta dukungan diberikan apabila Nasaruddin Umar resmi menjadi kandidat Ketua Umum PBNU.
Amanah tersebut diterima di Makassar, Selasa (11/8/2026), menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. PBNU sebelumnya telah menetapkan Tambakberas sebagai tuan rumah dalam rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziyah pada 7 Juli 2026.
“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan memohon rida Allah SWT, berkah Baginda Rasulullah SAW, para wali Allah, serta para muassis NU Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, saya mengimbau para sahabat, Rais Syuriyah dan Ketua PCNU se-Sulselbar, agar memberikan dukungan penuh dan maksimal kepada Al-Mukarram Al-‘Alim Al-‘Allamah Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. untuk menjadi Ketua Umum PBNU,” demikian amanah Puang Makka.
Ia menutup seruan tersebut dengan ungkapan khas Bugis-Makassar, “Siri’ta Pesseta.”
Ungkapan itu tidak sekadar merujuk pada rasa malu. Dalam konteks budaya Bugis-Makassar, siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri, martabat, dan tanggung jawab sosial. Sementara pesseta merujuk pada rasa kebersamaan atau keterikatan di antara sesama.
Bagi Puang Makka, seruan tersebut sekaligus membawa hubungan antara tradisi keulamaan Sulawesi Selatan dan dinamika kepemimpinan NU di tingkat nasional.
Dari Puang Ramma ke Nasaruddin Umar
Puang Makka merupakan putra Habib Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf atau Puang Ramma, salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan NU di Sulawesi Selatan.
Nama Puang Ramma juga memiliki tempat dalam perjalanan keulamaan Nasaruddin Umar. Hubungan itu kembali disebut Nasaruddin ketika berziarah ke makam Puang Ramma di Tambua, Kabupaten Maros, pada Oktober 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin menyebut dirinya sebagai “anak ideologis” Puang Ramma.
Pernyataan itu memberi konteks tersendiri terhadap seruan Puang Makka. Dukungan tersebut tidak hanya muncul dalam ruang politik organisasi menjelang muktamar, tetapi juga bersinggungan dengan mata rantai keulamaan yang tumbuh di Sulawesi Selatan.
Nasaruddin sendiri lahir di Ujung, Bone, pada 23 Juni 1959. Ia kemudian menempuh pendidikan di Pesantren As’adiyah Sengkang sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Alauddin Ujung Pandang dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia meraih gelar doktor pada 1998 dan dikukuhkan sebagai guru besar bidang tafsir pada 2002.
Lingkungan As’adiyah menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektualnya. Pada 2022, Nasaruddin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang dan hingga kini masih tercatat dalam posisi tersebut.
Perjalanan Nasaruddin kemudian berkembang jauh melampaui lingkungan pesantren.
Ia pernah menjadi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dan Wakil Menteri Agama. Ia juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam perjalanan di lingkungan NU, Nasaruddin juga pernah mengemban posisi Katib Aam PBNU.
Pengalaman tersebut membuat namanya tidak asing dalam struktur keulamaan NU. Pada saat yang sama, posisinya sebagai Menteri Agama membuat Nasaruddin berada dalam ruang pemerintahan nasional.
Muktamar dan dinamika kepemimpinan NU
Muktamar ke-35 NU akan menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU untuk menentukan arah organisasi dan kepengurusan periode berikutnya. Forum tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima hari di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.
Dalam konteks itulah dukungan dari daerah mulai muncul.
Seruan Puang Makka secara khusus menyasar jajaran Rais Syuriyah dan Ketua PCNU di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sasaran tersebut menunjukkan bahwa dukungan yang disampaikan berkaitan langsung dengan struktur kepengurusan NU di tingkat daerah.
Namun, keputusan mengenai kepemimpinan PBNU tetap berada dalam mekanisme Muktamar.
Karena itu, seruan tersebut lebih tepat dibaca sebagai aspirasi dari salah satu tokoh keulamaan Sulawesi Selatan menjelang forum organisasi, bukan sebagai penetapan Nasaruddin Umar sebagai calon atau Ketua Umum PBNU.
Bagi Puang Makka, pengalaman keilmuan, latar belakang pesantren, perjalanan di lingkungan NU, serta pengalaman Nasaruddin di pemerintahan menjadi bagian dari alasan dukungan tersebut.
Nasaruddin juga membawa identitas keulamaan Sulawesi Selatan. Ia lahir di Bone dan tumbuh melalui pendidikan As’adiyah di Sengkang. Dari lingkungan tersebut, perjalanan akademik dan pengabdiannya kemudian berkembang hingga tingkat nasional dan internasional.
Di sisi lain, Muktamar NU bukan hanya tentang siapa yang akan memimpin.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan arah jam’iyah dalam menghadapi perubahan sosial, pendidikan pesantren, kaderisasi ulama, kemandirian ekonomi, penguatan organisasi, serta peran NU dalam kehidupan kebangsaan.
Karena itu, setiap dukungan menjelang muktamar pada akhirnya akan bertemu dengan forum permusyawaratan yang memiliki mekanisme sendiri.
Dukungan dari satu wilayah tidak otomatis menjadi keputusan organisasi.
Aspirasi dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat tetap menjadi bagian dari dinamika tersebut.
Dan kali ini, aspirasi itu datang melalui suara Puang Makka, putra Puang Ramma, untuk seorang tokoh yang juga tumbuh dari tanah Sulawesi Selatan.
“Siri’ta Pesseta.”
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
