Mata dipaksa tetap terbuka.
Jadwal ditambah.
Agenda diperbanyak.
Istirahat dikurangi.
Sampai suatu hari tubuh itu mengirim surat protes.
Dan biasanya surat itu datang tanpa pemberitahuan.
Malam itu Fantry seperti sedang mengirim pesan sebelum surat protes itu datang.
Bukan sebagai mantan Kapolres.
Bukan sebagai pejabat.
Melainkan sebagai orang yang selama dua tahun menyaksikan langsung ritme kerja seorang kepala daerah.
Saya melihat Syaharuddin hanya tersenyum mendengar pesan itu.
Seperti orang yang tahu dirinya memang bersalah.
Setidaknya dalam urusan tidur.
Entah setelah malam itu beliau akan mengurangi aktivitas atau tidak.
Entah nasihat itu akan dipatuhi atau tidak.
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, dari sekian banyak sambutan malam itu, publik kemungkinan tidak akan mengingat seluruh isi pidato.
Mereka hanya akan mengingat satu bagian.
Satu kalimat.
Satu peringatan.
Satu kekhawatiran.
Dari seorang sahabat yang sedang berpamitan.
“Pak Bupati, jangan lupa tidur.”
Kadang kalimat paling pendek memang yang paling sulit dijalankan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
