Oleh: Sarifuddin Siregar

Cuaca sore itu terasa sejuk. Angin sepoi sesekali mengalun. Dedauan kembang melambai. Flora itu seolah berkata, selamat datang. Sementara, beberapa bunga memancarkan warna menohok membikin pandangan terpana. Teduh di sini, bisiknya.

Begitu suasana di pelataran Kantor Bupati Dairi Sumatera Utara di Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Jumat (5/6/2026) sore jelang petang.

Ajudan duduk dan melempar senyum kala wartawan menanti giliran bertamu sesuai jadwal.

Rafael Siringo-ringo, Kepala Bagian Protokol, salah satu diantaranya. Alumni Institut Pemerintahan Dalam negeri (IPDN) ini begitu ramah.

“Kita tunggu sebentar ya, bang”, kata Rafael.

Tak lama berselang, suara tepuk tangan terdengar dari ruang kerja Bupati, Vickner Sinaga. Entah apa yang mereka diskusikan. Kalau bicara tepuk tangan, sudahlah pasti top manajemen dan orang bersamanya lagi bersuka.

Klek. Pintu dibuka. Satu per satu keluar dengan wajah ceria. Rupanya, mereka adalah jajaran kabinet dan setingkat di bawahnya. Inspektur Johnni Hutasoit, Kepala Badan Keuangan dan Asset Rahmatsyah Munthe, Staf Ahli Bupati Anggara Sinurat dan lainnya melangkah cantik. Sementara level camat diantaranya Mawardy Sastrawan Tumanggor. Mereka menyapa lewat lambaian tangan pertanda berteman dengan jurnalis.

“Ayo. Masuk kita”, kata Sekretaris Daerah, Charles Bantjin.

Duduknya tenang. Memngenakan batik coklat, dia menengok dan satu per satu penulis berita yang menyalamnya. Jurnalis dipersilahkan duduk. Kesannya cair apalagi pembicaraan jamak memakai Bahasa Batak.

“Saya betul menyediakan waktu buat kita. 2 jam, ya?”, kata Vickner.

Sepenggel kalimat terucap dari pejabat ini menunjukkan dianya memang punya komitmen bersahabat. Dia tak sudi diganggu atau dibisiki oleh siapapun.

“Ini HP (telepon selluler) saya. Saya letakkan di sini. Tidak akan saya angkat”, kata mantan Direktur PT PLN wilayah Kalimantan Utara itu.

Ia memulai pembicaraan ringan. Sesungguhnya, saya sudah meluangkan waktu agar kita bertemu kemarin, sehabis kunjungan Menteri, kata Vickner. Namun entah kenapa, tidak jadi. Ia kemudian menginstruksikan Kadis Kominfo, Desi Sianturi menjadual ulang pertemuan. Kalau tidak bisa besok, lusa. Rupanya, ini momen terbaik.

Banyak hal dipaparkan politisi Partai Golkar sekaligus pengusaha berusia 68 tahun ini. Salah satu yang belum pernah terpublikasi adalah lila-liku hingga dia mau ikut pilkada tahun 2024.

“Saya tidak pernah terpikir mau jadi Bupati. Jujur, saya tidak pernah bermimpi”, kata Vickner.

Sejak pensiun dari PLN, Vickner menerangkan, memiliki aktivitas padat di Jakarta. Ia menjadi motivator atau narasumber di berbagai pertemuan. Tarifnya tidak tanggung-tanggung. Rp60 juta sekali berdiri.

Bisnisnya juga berkembang. Salah satunya memasok minuman ke sejumlah restoran. Ia mendapatkan untung Rp500 per botol salah satu produk Kota Siantar.

“Kami juga sesekali harus ke luar negeri menghadari ragam even”, kata Vickner.

Selain aktif sebagai dosen, Vikner mengutarakan, menaruh banyak waktu buat pengabdian menjadi pengurus gereja HKBP.

“40 tahun lebih saya ikut bergabung menjadi pengurus HKBP dan menjadi donatur”, kata Vickner.

Pada kegiatan sosial dan adat istiadat, Vickner mengutarakan, memenmapti posisi penasehat PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Boru Bere). Lewat wadah ini, ia berkontribusi memajukan generasi muda khususnya marga Sinaga dalam bidang pendidikan dan politik.

“Saya berjuang memenangkan Lamhot Sinaga dan Mangihut Sinaga menjadi anggota DPR RI. Banyak anak sekolah kita tolong”, ungkap Vickner.

Dituturkan, pertarungan mengikuti Pilkada Dairi hanya dipersiapkan selama 6 bulan.

Awalnya, beberapa elemen termasuk tokoh Dairi di Jabodatek memintanya maju. Namun, mentah-mentah ditolak.

“Saya sudah selesai dengan diri sendiri. Ingin menjalani usia senja dengan berbagai aksi kemanusiaan dan kerohanian”, jawabnya.

Maksudnya apa? Anak sudah bekerja semua. Hidup cukup. Pekerjaan lumayan. Tamatnya dari kampus top UGM, UI, ITS dan ITB, kata Vickner. Menurutnya anugerah yang diterima dari Tuhan berlimpah ruah. Dan, berusaha menjadi saluran berkat.

“Saya hanya orang desa dari Sidikalang. Berhasil masuk Universitas Sumatera Utara (USU) Medan dan langsung kerja di PLN hingga menempati posisi eksekutif. Hidup sudah tenang”, kata Vickner.

Beberapa waktu kemudian, kata Vickner, komunitas lain datang membujuknya agar ikut tarung. Ia tetap pada pendirian, tidak. Ada lagi pasang siasat memunculkan namanya di media.

Ketua DPRD, Sabam Sibarani, kata Vicner menghampirinya di Jakarta. Rayuannya sama. Mengajak pulang kampung. Sabam mengemukakan ragam argumen. Lagi-lagi, dijawab, no.

Pun begitu, ajakan tersebut dibawa ke rumah. Ia bertanya kepada istri, Lintong Rita Puspita Situmorang, para si buah hati dan menantu.

“Semua anak perempuan bilang, tidak usah.Sementara menantu bilang, kalau boleh, jangan sebatas king maker seperti selama ini. Sekali-sekali jadi king”, kenangnya disertai tawa.

Namun, hatinya luluh bercampur bara kala menerima kedatangan Tina Sinaga seorang PNS, istri Sabam.

Tina mengungkap rasa sakit di hati. Kalau ia bertemu seorang PNS, esok lusa, PNS itu akan dipanggil Romi.

“Tina dihindari teman PNS. Tak banyak teman ngomong”, ujar Vickner mengacu rintihan perempuan tean sekampungnya.

Tina juga membuka tabir komunikasi antar peabat yang renggang. Hubungan Bupati dan Wakil Bupati tidak bagus. Begitu juga Bupati dan ketua DPRD, kurang akur.

Curhan dan luka itu membuat darahnya mendidih.

“Saya membantu Eddy Berutu menjadi Bupati tetapi dia bikin begitu sama boru saya…saya maju”, tandasnya.

Sejak itu, tangannya dikepal bersiap terjun ke gelanggang. Vicner mendaftar ke beberapa partai politik. Ia mengungkap, harusnya, Eddy Berutu diusung Partai Golkar karena berstatus Ketua DPD Golkar Dairi dan incumben. Tetapi, hasil survei menunjukkan, Vickner unggul jauh.

“Saya ketemu dengan ketua Golkar Sumut,Musa Rajekshah dan pengurus DPP Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tanjung di Medan. Disepakati, saya diusung”, kata Vickner.

Vickner membenarkan, Eddy Berutu pernah berjumpa dengannnya sembari minta dukungan. Abang dukung saya, kan, kata Eddy kala itu.

Vickner berpasangan dengan Wahyu Daniel Sagala diusung Golkar, PKS dan Perindo. Realitasnya, menang. Sedang Eddy Berutu-Depriwanto Sitohang berada di posisi ke 3.

🔥 TRENDING
MBG untuk Siapa?

Ia tidak menepis, mengeluarkan cost politik dalam kuantita besar. Namun, ia tak terlalu memikirkannya.

“Kalau dikalkukasi, tak mungkin modal kembali. Tidak mungkin balik modal. Itu sudah diikhlaskan. Selagi Tuhan memberi waktu, kami melakukan yang terbaik”, kata dia.

Dia mencontohkan bisnis rugi. Ia bersama Pantur Silaban membangun Hotel Berristera di Sitinjo tahun 1991. Tujuan utama, sebagai fasilitas praktek buat siswa SMK Prima. Setiap hari, 40 orang bekerja di hotel bintang 1 itu. Dari sisi keuangan, jelas rugi. Tetapi, itulah namanya peduli kampung halaman. Banyak pelajar mendapat pengetahuan dengan biaya irit.

Dalam usia yang kian renta, ia tak membantah kondisi fisik menurun.

“Apakah saya mengeluh kesakitan selama kita ngobrol 2 jam? Orang bilang, Bupati kena kanker ini kena itu. Berobat ke Penang dan macam-macam. Sampai pukul satu nanti, kami masih bekerja”, kata Vickner.

Pun begitu, ia menghadapi kendala memajukan daerah ini. Otonomi daerah berdampak buruk. Tahun 2024, APBD Dairi berada di angka Rp1,4 triliun. Tahun 2025, melorot di bilangan Rp1,1 trilun. Tahun 2026 tinggal Rp1 triliun.

“Anggaran dipangkas. Efisisensi. Pusat yang membuka keran pengangkatan honor menjadi PPPK, tetapi gaji ditampung di APBD. Itu, belum lagi dikurangi biaya perjalanan dinas”, kata Vickner.

Karenanya, kepala daerah harus intens melobby ke berbagai sumber pembiayaan termasuk dukungan swasta.

Benarkah ucapan Tina terkait Romi? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Atau dinanti respons pesan elektronik darinya.

Namun harus diakui, pasangan Eddy Berutu-Jimmy Sihombing, pecah kongsi tak lama setelah dilantik. Jimmy melakukan perlawanan terbuka. Disaksikan banyak mata, Eddy tak berikutik. (*)