Sidrap, katasulsel.com β Bupati boleh berganti, masa jabatan bisa berakhir. Namun, jejak pembangunan tidak selalu ikut pergi. Ada gedung pemerintahan yang masih digunakan, jalan beton yang tetap dilalui warga, hingga hamparan sawah yang terus menjadi penopang ekonomi Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Perjalanan itu terbentang sejak 1960, ketika H. Andi Sapada Mappangile memimpin Sidrap sebagai bupati pertama. Sejak saat itu, daerah di Sulawesi Selatan ini melewati berbagai fase pemerintahan, perubahan politik, dan arah pembangunan.
Setiap era menghadirkan tantangan berbeda. Ada masa ketika fondasi administrasi pemerintahan harus dibangun. Ada pula periode ketika infrastruktur, pelayanan publik, dan penguatan sektor pertanian menjadi bagian penting dari agenda daerah.
Nama-nama seperti Arifin Nuβmang, Opu Sidik, Yunus Bandu, A. Salipolo Pallaloi, S. Parawansa, dan Andi Ranggong turut mengisi perjalanan kepemimpinan Sidrap. Kontribusi masing-masing perlu dibaca berdasarkan catatan sejarah dan kondisi pada zamannya.
Perubahan besar dalam pembangunan fisik terlihat pada era Rusdi Masse Mappasessu, yang memimpin selama dua periode, 2008β2018.
Salah satu jejak yang masih dikenal masyarakat adalah kawasan perkantoran terpadu yang disebut Gadis, singkatan dari Gabungan Dinas. Kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas sejumlah kantor pemerintahan kabupaten.
Pembangunan jalan beton di berbagai wilayah, termasuk di 11 kecamatan, juga menjadi bagian dari gambaran pembangunan pada masa itu. Infrastruktur jalan memiliki fungsi langsung bagi masyarakat, mulai dari mobilitas warga hingga akses distribusi hasil pertanian.
Selain itu, fasilitas sirkuit balap motor turut mewarnai pembangunan infrastruktur di Sidrap pada era Rusdi Masse.
Warisan fisik semacam ini memiliki arti penting karena manfaatnya dapat melampaui masa jabatan seorang kepala daerah. Meski demikian, penilaian menyeluruh terhadap kinerja pemerintahan tetap membutuhkan data dari berbagai sektor, bukan hanya pembangunan fisik.
Setelah Rusdi Masse, Sidrap dipimpin Dollah Mando bersama Mahmud Yusuf pada periode 2018β2023.
Pada masa tersebut, pemerintah daerah melaporkan pembangunan jalan kabupaten sepanjang 97,284 kilometer selama 2019β2023, serta pembangunan 20 jembatan dan talud sepanjang 4,772 kilometer. Revitalisasi sejumlah pasar juga menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Catatan itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan fasilitas ekonomi tetap menjadi perhatian pemerintahan berikutnya.
Kini, Sidrap memasuki periode kepemimpinan Syaharuddin Alrif bersama Nurkanaah untuk masa jabatan 2025β2030.
Arah pembangunan yang menonjol pada periode ini adalah penguatan pertanian dan aktivitas ekonomi. Pilihan tersebut sejalan dengan posisi Sidrap sebagai salah satu daerah penghasil pangan penting di Sulawesi Selatan.
Data yang dipublikasikan pemerintah daerah menyebut produksi gabah kering panen Sidrap mencapai 679.772 ton pada 2025, meningkat dibandingkan 534.355 ton pada 2024. Pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025 juga dilaporkan mencapai 7,71 persen.
Angka tersebut menjadi indikator penting untuk membaca perkembangan ekonomi Sidrap. Namun, peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi tetap perlu diikuti dengan perbaikan pendapatan petani, efisiensi biaya produksi, akses pasar, serta pemerataan manfaat pembangunan.
Sebab, daerah yang kuat sebagai lumbung pangan bukan hanya daerah yang menghasilkan banyak gabah. Petaninya juga harus memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari hasil kerja mereka.
Jika perjalanan para bupati Sidrap dibaca dari masa ke masa, terlihat bahwa pembangunan tidak berdiri di atas satu nama atau satu periode saja. Fondasi pemerintahan, infrastruktur, fasilitas ekonomi, dan produktivitas pertanian merupakan bagian dari perjalanan panjang yang saling menyambung.
Pada akhirnya, ukuran penting kepemimpinan bukan semata berapa lama seseorang menjabat atau berapa banyak proyek yang dibangun. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang tetap bermanfaat setelah masa jabatan berakhir?
Di Sidrap, jawabannya dapat ditemukan pada kantor yang masih melayani warga, jalan yang menghubungkan desa dan pusat ekonomi, serta sawah yang terus menghasilkan pangan.
Bupati datang dan pergi. Tetapi pembangunan yang terpelihara dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dapat menjadi warisan lintas generasi. (dinda)
