Sidikalang, katasulsel.com — Tidak banyak anak muda dari daerah yang berani menembus ribuan kilometer demi mengejar mimpi. Tapi Tiro Turnip memilih jalan itu.

Lima tahun lalu, ia masih duduk di bangku SMAN 1 Sidikalang. Hari-harinya diisi pelajaran sekolah, tampil di panggung, dan suara merdu yang cukup dikenal di kalangan teman-temannya.

Kini, pemuda asal Sidikalang itu menjalani kehidupan yang sangat berbeda — menempuh pendidikan pascasarjana di Saint Petersburg State University, salah satu kampus ternama di Rusia.

Perjalanannya bukan cerita instan.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Di mata gurunya dulu, Tiro bukan sekadar siswa biasa.

“Kalau soal panggung dan nyanyi, dia memang punya aura. Orangnya pintar, mudah senyum, terbuka, dan punya karisma,” kenang Dinmer Sihaloho.

Namun di balik pembawaannya yang santai, Tiro ternyata menyimpan tekad besar: keluar dari zona nyaman dan mencari masa depan lewat pendidikan.

Dari Rostov ke Saint Petersburg

Setelah menyelesaikan kuliah S1 jurusan Manajemen di Southern Federal University, Tiro langsung mencoba melamar program S2 di Saint Petersburg State University jurusan ekonomi.

Dan ia diterima lewat jalur beasiswa.

“Begitu selesai S1, saya langsung coba daftar. Puji Tuhan diterima,” kata Tiro, Jumat (29/5/2026).

Namun tiket menuju kampus bergengsi itu tidak datang mudah.

Persaingan disebut melibatkan peserta dari sekitar 40 negara. Ribuan mahasiswa asing berburu kursi yang sama.

“Otak Harus Bekerja Dua Kali”

Kuliah di Rusia ternyata tidak seindah unggahan media sosial mahasiswa luar negeri.

Tiro mengaku fase paling berat justru datang saat pertama masuk perkuliahan.

Ia hanya punya waktu sekitar satu tahun mempelajari Bahasa Rusia sebelum masuk kampus utama.

Masalahnya, percakapan sehari-hari sangat berbeda dengan bahasa ilmiah di ruang kuliah.

“Awalnya berat sekali. Penjelasan dosen harus diterjemahkan dulu di kepala. Dari Rusia ke Inggris, lalu dipahami lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Tak jarang ia tertinggal materi karena harus berpikir dua kali lebih keras dibanding mahasiswa lokal.

Namun di situlah mentalnya ditempa.

Dosen Bisa Dibantah

Hal lain yang membuat Tiro kagum adalah budaya akademik di Rusia.

……………..

Menurutnya, dosen di sana tidak anti kritik.

“Kalau pendapat dosen menurut kita kurang cocok, bisa dibantah. Yang penting argumentasinya logis,” katanya.

Ia juga menyebut sistem pendidikan di sana lebih modern. Dosen tidak menjual buku kepada mahasiswa, karena hampir semua materi menggunakan buku elektronik.

“Hubungan dosen dan mahasiswa lebih terbuka. Tidak ada budaya takut berpendapat,” ujarnya.

Hidup Hemat di Kota Mahal

Tinggal di Saint Petersburg juga bukan perkara mudah.

Sebagai kota besar, biaya hidup cukup tinggi. Dalam sebulan, kebutuhan hidup bisa mencapai sekitar Rp5 juta.

Karena itu, Tiro memilih hidup hemat.

Masak sendiri. Belanja sendiri. Mengatur uang sendiri.

“Kalau tiap hari makan di restoran, habis uang,” katanya.

Kehidupan mandiri itulah yang perlahan membentuk kedewasaannya selama hidup jauh dari keluarga.

Dari Mahasiswa Jadi Penulis Buku

Kemampuan Bahasa Rusia yang awalnya menjadi hambatan kini justru berubah menjadi peluang.

Tiro berhasil menulis buku panduan belajar Bahasa Rusia yang diterbitkan Gramedia.

Tidak hanya itu, ia juga membuka kursus online Bahasa Rusia untuk masyarakat Indonesia, baik kelas privat maupun grup.

Dari seorang siswa daerah yang dulu hanya dikenal pandai bernyanyi di sekolah, Tiro perlahan menjelma menjadi anak muda yang membangun jalannya sendiri di negeri orang.

Mimpi Berikutnya: Jadi Pengusaha

Di balik semua pencapaiannya, Tiro ternyata masih menyimpan mimpi lain.

“Kalau sudah selesai kuliah, saya ingin jadi pengusaha,” ujarnya.

Sementara sang ayah, Paulus Turnip, mengaku sejak awal hanya memberi satu pesan kepada anaknya: serius jika sudah memilih jalan hidup.

“Kalau mau bertarung di luar negeri, harus tanggung jawab dan sungguh-sungguh belajar,” katanya.

Dan kini, ribuan kilometer dari Sidikalang, Tiro Turnip sedang membuktikan satu hal sederhana: mimpi anak daerah juga bisa tumbuh sampai Rusia. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita