Karena itu, ia mengaitkan capaian panen yang dirasakannya dengan kombinasi antara kerja petani, dukungan sarana pertanian, pupuk, irigasi, serta perhatian dan motivasi pemerintah daerah.
Petani Otting Sudah Bicara Musim Tanam Berikutnya
Menariknya, Idris belum selesai dengan musim panen yang baru dilewatinya.
Ia sudah memikirkan musim tanam berikutnya.
Jika pasokan air tersedia lebih cepat, ia berencana kembali menanam pada sekitar Oktober atau November.
“Rencana mau menanam lagi. Kalau air cepat ada, biasanya Oktober sampai Desember airnya. Kalau ada air, kita Tabela lagi,” katanya.
Idris juga menyebut pengalaman petani di Otting menunjukkan bahwa musim tanam kedua (MT 2) sering memberikan produksi lebih tinggi.
Orang-orang tua di kampung, kata dia, mengenalnya dengan istilah “Ase Bare”.
Bukan Cerita di Atas Kertas
Pada akhirnya, Idris kembali pada satu hal yang menurutnya paling penting.
Hasil panennya.
Ia menegaskan angka yang disampaikannya merupakan hasil yang ia alami sendiri.
“Hasil yang saya bilang ini asli, bukan manipulasi,” ujarnya.
Dari satu hektare lima are sawah di Desa Otting, Idris membawa pulang pengalaman baru: produksi yang sebelumnya sekitar delapan ton kini menurut pengakuannya menembus 10 ton lebih.
Dan di balik angka tersebut, ia menyebut ada banyak hal yang bekerja bersama—petani yang bekerja, pupuk yang tersedia, irigasi yang mendukung, serta perhatian pemerintah yang menurutnya semakin terasa.
Bagi Kabupaten Sidrap yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Sulawesi Selatan, cerita Idris menjadi gambaran kecil dari apa yang sedang terjadi di tingkat petani.
Bukan di ruang rapat.
Bukan di atas kertas.
Tetapi di sawah. (edybasri)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
