Wakil Bupati Sidrap Nurkanaah melihat turnamen tersebut dari perspektif lain.

Menurutnya, kegiatan olahraga yang menghadirkan peserta dari luar daerah juga berpotensi memberikan dampak ekonomi.

Peserta dan pendamping yang datang ke Sidrap membutuhkan penginapan, makanan, transportasi serta berbagai kebutuhan lainnya.

Pergerakan mereka selama mengikuti turnamen secara tidak langsung menciptakan aktivitas ekonomi.

Dengan kata lain, bola yang bergulir di atas meja biliar tidak hanya menghasilkan pertandingan.

Ada aktivitas ekonomi lain yang ikut bergerak di luar arena.

Jika event olahraga semacam ini dapat berlangsung secara rutin, dampaknya berpotensi menjadi lebih luas.

Sidrap Bisa Punya Kalender Biliar Sendiri

Kapolres Sidrap Cup I memberikan satu gambaran menarik.

Sebuah kabupaten dapat menjadi tempat bertemunya pemain nasional dan pebiliar daerah.

Tinggal bagaimana momentum tersebut dipelihara.

Jika kompetisi serupa digelar secara berkala, bukan tidak mungkin Sidrap memiliki kalender pertandingan biliar yang ditunggu komunitas dari berbagai daerah.

Tetapi pekerjaan rumahnya juga jelas.

Kompetisi harus berjalan beriringan dengan pembinaan.

Pemain muda perlu mendapat ruang. Pelatih perlu ditingkatkan kualitasnya. Klub perlu aktif. Kompetisi harus memiliki jenjang. Dan pemain yang memiliki potensi perlu diberi kesempatan untuk menguji kemampuan di luar daerah.

Sebab, sebuah turnamen pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang hadiah.

Yang lebih penting adalah siapa yang mendapatkan pengalaman, siapa yang berkembang, dan apakah ada atlet baru yang lahir dari kompetisi tersebut.

Kapolres Sidrap Cup I kini telah membuka pintu.

Empat pebiliar nasional datang ke Sidrap. Puluhan pemain profesional Sulsel ikut bertarung. Total 128 peserta meramaikan kompetisi.

Selanjutnya, tinggal bagaimana pintu itu terus dibuka.

Dari sebuah meja biliar di Sidrap, bisa saja lahir perjalanan panjang seorang atlet menuju panggung yang lebih besar. (*)