Mempawah, katasulsel.com — Sungai Mempawah di Kalimantan Barat (Kalbar) kini sedang berada dalam kondisi yang tidak biasa. Jutaan ikan budidaya keramba dilaporkan mati secara massal dan mengapung di permukaan sungai, memicu bau menyengat serta keluhan dari warga sekitar bantaran sungai.

Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi bagi para pembudidaya, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada aliran sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

“Bangkai ikan banyak yang mengapung di sungai. Baunya sangat mengganggu,” ujar Harun, warga setempat, Sabtu, (13/6/2026).

Warga lainnya, Udin, menyebut kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi menurunkan kualitas air sungai secara drastis.

Di tengah peristiwa itu, muncul istilah lokal yang menarik perhatian warga. Jenis ikan yang mati massal tersebut, yang di beberapa daerah budidaya dikenal sebagai ikan air tawar konsumsi, di Sidrap, Sulawesi Selatan, lebih akrab disebut sebagai ikan “kandea”.

Istilah ini menjadi semacam jembatan ingatan antarwilayah, karena di Sidrap—yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian dan perikanan air tawar di Sulawesi Selatan—ikan kandea juga menjadi bagian dari aktivitas budidaya masyarakat di sejumlah wilayah perairan dan kolam produksi.

Meski berbeda lokasi, fenomena yang terjadi di Mempawah ini seolah menjadi pengingat bagi daerah-daerah lain seperti Sidrap, bahwa sektor perikanan budidaya sangat bergantung pada kestabilan kualitas air dan ekosistem lingkungan.

Jika di Mempawah saat ini persoalannya diduga terkait perubahan kualitas air sungai dan faktor alam, maka bagi daerah seperti Sidrap, pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa sistem budidaya—baik di sungai, danau, maupun kolam—memerlukan pengawasan kualitas air yang konsisten dan berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Mempawah sendiri telah turun melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan. Dugaan sementara, kematian massal ikan dipicu oleh perubahan sifat air yang menyebabkan kondisi tidak ideal bagi ikan budidaya.

Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang seperti pengawasan kualitas air, penataan zonasi keramba, hingga sistem peringatan dini untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Dari Mempawah hingga Sidrap, peristiwa ini memberi satu gambaran yang sama: bahwa air bukan hanya tempat hidup ikan, tetapi juga penentu utama keberlanjutan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan budidaya. (*)