Sejumlah tokoh yang sebelumnya berhadapan dalam kontestasi politik daerah kini ditempatkan dalam satu struktur kepengurusan.
Pesannya cukup jelas: kompetisi politik boleh terjadi ketika kontestasi berlangsung, tetapi setelah itu energi politik harus bisa dikonsolidasikan menjadi kekuatan organisasi.
Dalam susunan tersebut, sejumlah bidang strategis juga dipercayakan kepada figur-figur dengan latar belakang yang sesuai.
Andi Debby Purnama P ditempatkan sebagai Wakil Ketua Bidang Ekonomi dan Industri Kreatif.
Ida Nur Haris YL dipercaya menangani Koperasi dan UKM.
H. Andry S. Arief Bulu, SE, MM mendapat amanah di bidang Ketenagakerjaan.
Ir. Dino Jabir Patawiri dipercaya pada bidang Perdagangan dan Industri.
Sementara H. Zulkifli Zain mendapat ruang di bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan.
Jika dibaca sebagai sebuah desain politik organisasi, susunan ini memperlihatkan satu pola: Golkar Sulsel mencoba menempatkan figur berdasarkan bidang yang bersentuhan langsung dengan persoalan pembangunan.
Bagi Sidrap, masuknya H. Pilli dan H. Mahmud Yusuf tentu memiliki arti tersendiri.
Dua figur daerah itu kini tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa pengalaman dan perspektif Sidrap ke dalam struktur partai tingkat provinsi.
Khusus H. Pilli, amanah di bidang pertanian dan ketahanan pangan terasa semakin relevan.
Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penting dalam produksi pangan Sulawesi Selatan.
Karena itu, pengalaman seorang politisi Sidrap di sektor tersebut berpotensi menjadi modal untuk membawa isu-isu pertanian daerah ke ruang pembahasan yang lebih luas.
Dari sawah Sidrap menuju meja kebijakan di tingkat provinsi.
Dari Komisi B DPRD Sulsel menuju struktur Partai Golkar Sulsel.
Jalur tersebut kini bertemu pada satu isu: bagaimana pertanian dan ketahanan pangan tidak hanya menjadi jargon politik, tetapi menjadi agenda yang benar-benar diperjuangkan.
Bersambung…………
