Jakarta — Peta politik Israel menjelang Pemilu 2026 berubah drastis. Setelah bertahun-tahun mendominasi panggung politik, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kini menghadapi tantangan serius dari sosok yang tidak bisa dianggap remeh: mantan Panglima Militer Israel, Gadi Eisenkot.
Eisenkot yang baru meluncurkan Partai Yashar langsung mencuri perhatian publik. Sejumlah survei bahkan menempatkannya sebagai salah satu figur paling kuat yang berpotensi mengakhiri era panjang kekuasaan Netanyahu.
Situasi semakin rumit bagi Netanyahu setelah dua mantan perdana menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, memutuskan bergabung dalam aliansi politik “Together” (BeYachad) untuk menghadapi kubu petahana.
Yang menarik, pertarungan kali ini bukan lagi sekadar soal kanan dan kiri. Ketiga tokoh oposisi tersebut sama-sama memiliki basis pemilih yang kuat di kalangan nasionalis dan pemilih moderat yang mulai kecewa terhadap pemerintahan Netanyahu pasca perang dan berbagai krisis politik dalam negeri.
Sementara itu, tekanan terhadap Netanyahu datang dari berbagai arah. Selain menghadapi kritik atas penanganan perang dan keamanan nasional, koalisi pemerintahannya juga diguncang perdebatan soal wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks yang memicu ancaman pemilu lebih cepat dari jadwal semula.
Meski demikian, para pengamat menilai Netanyahu masih sangat berbahaya secara politik. Pemimpin Partai Likud itu dikenal sebagai “raja comeback” yang berkali-kali berhasil bangkit saat diprediksi akan tumbang.
Saat ini, tidak ada satu pun blok politik yang diperkirakan mampu meraih mayoritas mutlak 61 kursi di Knesset. Karena itu, siapa pun yang menang tetap harus membangun koalisi pasca pemilu. Artinya, pertempuran sesungguhnya kemungkinan baru dimulai setelah rakyat Israel selesai memberikan suara.
Bila tren survei saat ini bertahan, Pemilu Israel 2026 berpotensi menjadi pertarungan paling sengit dalam satu dekade terakhir: Netanyahu melawan koalisi perubahan yang dipimpin Bennett, Lapid, dan Eisenkot. (*)
