Kendari, kaasulsel.com – Di tengah banyaknya daerah yang berlomba membangun infrastruktur dan mengejar investasi, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) justru mencuri perhatian lewat capaian yang lebih mendasar: menyelamatkan masa depan keluarga miskin dan anak-anak dari ancaman stunting.
Prestasi itu mendapat pengakuan langsung dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Regional Sulawesi yang digelar di Kendari, Jumat (29/5/2026).
Sidrap dinobatkan sebagai daerah terbaik pertama tingkat kabupaten dalam kategori Penurunan Tingkat Kemiskinan dan Percepatan Penurunan Stunting Secara Terintegrasi, mengungguli Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Gowa yang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga.
Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestise. Di balik trofi yang diterima, tersimpan pengakuan atas keberhasilan pemerintah daerah membangun sinergi program penanggulangan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting hingga menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Yang dinilai bukan hanya angka statistik, melainkan bagaimana program-program pemerintah mampu bekerja secara terintegrasi, mulai dari pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, perlindungan sosial, hingga intervensi yang menjangkau desa dan keluarga sasaran.
Di era ketika stunting masih menjadi tantangan serius nasional, keberhasilan Sidrap menunjukkan bahwa persoalan tersebut dapat ditekan jika pemerintah daerah mampu menyatukan berbagai program dalam satu arah kebijakan yang jelas.
Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi sinyal bahwa pembangunan manusia mulai menjadi salah satu kekuatan utama Sidrap.
Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Dampaknya jauh lebih besar karena berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia, kemampuan belajar, produktivitas, hingga daya saing daerah di masa depan.
Begitu pula dengan kemiskinan. Ketika angka kemiskinan berhasil ditekan, maka efeknya akan terasa pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai bentuk apresiasi, Kemendagri memberikan bantuan pemerintah sebesar Rp3 miliar kepada daerah yang meraih peringkat pertama.
Dana tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan energi bagi pemerintah daerah untuk melanjutkan program-program yang telah terbukti efektif menekan kemiskinan dan stunting.
Sementara itu, penghargaan tingkat kota diraih Kota Tomohon sebagai terbaik pertama, disusul Kota Manado dan Kota Makassar. Untuk tingkat provinsi, Sulawesi Utara berhasil keluar sebagai yang terbaik.
Bagi Sidrap, penghargaan ini bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kompetisi antardaerah.
Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kerja-kerja yang sering tidak terlihat publik—mulai dari pelayanan posyandu, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga program perlindungan masyarakat miskin—akhirnya mendapat pengakuan di tingkat regional.
Di balik piala yang dibawa pulang ke Bumi Nene Mallomo, tersimpan pesan penting bahwa keberhasilan sebuah daerah tidak selalu diukur dari gedung yang menjulang atau proyek yang megah.
Kadang, ukuran keberhasilan justru terlihat dari semakin sedikit anak yang mengalami stunting dan semakin banyak keluarga yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Usaha itu mungkin tidak selalu menjadi sorotan. Namun dampaknya akan dirasakan jauh lebih lama oleh generasi yang akan datang.(*)
