Ketua Karang Taruna Kabupaten Sidrap, Dr. Abdul Jabbar, menegaskan bahwa hasil dialog harus memiliki tindak lanjut yang jelas.
“Kami ingin setiap gagasan yang lahir dari forum ini memiliki arah tindak lanjut. Aspirasi akan dihimpun, dipetakan, dan dirumuskan menjadi rekomendasi,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan DPRD dapat menjadikan rekomendasi tersebut sebagai bahan pertimbangan, sementara pemuda dan masyarakat turut mengawal proses pelaksanaannya.
Langkah ini penting karena tidak semua aspirasi dapat langsung diwujudkan. Setiap usulan tetap memerlukan pemetaan kebutuhan, penentuan prioritas, kewenangan yang sesuai, serta pertimbangan anggaran dan kemampuan daerah.
Namun, dokumentasi aspirasi secara sistematis dapat menjadi awal untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan proses perencanaan pembangunan.
Tudang Sipulung Kebangsaan memberi ruang bagi pemuda untuk menyampaikan gagasan sekaligus mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu forum.
Akan tetapi, keberhasilan kegiatan semacam ini pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta, kehadiran pejabat, atau banyaknya persoalan yang dibicarakan.
Ukuran berikutnya adalah sejauh mana aspirasi itu dirumuskan menjadi rekomendasi yang terarah, ditindaklanjuti oleh pihak terkait, dan dikawal bersama.
Karena itu, penyusunan policy brief menjadi langkah penting yang patut ditunggu. Dari sana, publik dapat melihat persoalan mana yang diprioritaskan, siapa yang berwenang menanganinya, dan bagaimana kemungkinan tindak lanjutnya.
Melalui forum tersebut, Karang Taruna Sidrap menegaskan upaya menempatkan pemuda sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar kelompok yang menerima hasil kebijakan.
Kini, tantangannya adalah memastikan suara yang telah disampaikan di Monumen Ganggawa tidak berhenti sebagai catatan diskusi, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama menuju Sidrap yang lebih maju dan sejahtera.(edybasri)
