Jakarta, katasulsel.com β Dunia akademik Indonesia sedang menanggung malu.
Bukan karena kekurangan peneliti hebat. Bukan pula karena kalah bersaing di panggung internasional.
Justru sebaliknya.
Sejumlah oknum diduga memanfaatkan dunia riset sebagai jalan pintas untuk terbang ke berbagai negara. Mereka diduga menggunakan penelitian bermasalah demi mendapatkan travel grant, bantuan dana yang lazim diberikan kepada peneliti untuk menghadiri konferensi ilmiah internasional.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkap dugaan motif utama para pelaku bukan untuk mengejar angka kredit akademik, melainkan memperoleh fasilitas perjalanan ke luar negeri melalui berbagai konferensi internasional.
Jika dugaan itu terbukti, maka ini bukan sekadar pelanggaran administrasi.
Ini persoalan integritas.
Travel grant sejatinya dibuat untuk membantu peneliti mempresentasikan temuan ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun dalam kasus ini, fasilitas tersebut diduga berubah fungsi menjadi “tiket emas” untuk berkeliling dunia.
Pemerintah kini membentuk tim khusus untuk mendalami kasus tersebut. Penelusuran juga melibatkan Universitas Negeri Yogyakarta karena para terduga memiliki keterkaitan sebagai alumni kampus itu. Empat orang telah dipanggil untuk dimintai keterangan terkait aktivitas dan motif mereka.
Kasus ini mencuat setelah muncul dugaan adanya abstrak penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi internasional di Denmark mengandung fabrikasi data dan penggunaan kecerdasan buatan secara tidak semestinya. Dugaan tersebut kemudian viral dan memicu sorotan luas dari kalangan akademisi.
Yang membuat publik tercengang, sejumlah laporan di media sosial menyebut ada oknum yang dalam kurun dua tahun tercatat melakukan ratusan penerbangan ke berbagai negara melalui konferensi ilmiah. Dugaan ini masih menjadi bagian dari perhatian publik dan belum seluruhnya terverifikasi oleh otoritas terkait.
Di balik kegaduhan itu, ada dampak yang jauh lebih besar.
Kepercayaan.
Ketika satu riset palsu terungkap, yang tercoreng bukan hanya nama pelakunya. Nama Indonesia ikut terseret. Peneliti-peneliti yang bekerja bertahun-tahun di laboratorium, mengumpulkan data dengan susah payah, ikut menanggung bayang-bayang kecurigaan.
Karena itu, banyak pihak mendorong investigasi dilakukan secara terbuka dan tuntas. Bukan untuk mempermalukan seseorang, tetapi untuk menyelamatkan marwah dunia akademik Indonesia.
Sebab ilmu pengetahuan dibangun di atas kejujuran.
Jika fondasi itu diganti dengan manipulasi, maka yang tersisa hanyalah boarding pass dan foto-foto perjalanan. Bukan pengetahuan. Bukan prestasi. Bukan kebanggaan.(*)
