Wajo, Katasulsel.com — Empat kecamatan di Kabupaten Wajo akan menjadi ruang kerja mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam menguji gagasan dan inovasi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116.
Namun, KKN kali ini tidak diarahkan sekadar menghadirkan kegiatan seremonial. Mahasiswa justru ditantang membaca kebutuhan desa, menemukan persoalan, lalu menghadirkan solusi yang bisa dirasakan masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam pembekalan khusus KKN Unhas Gelombang 116 untuk Kabupaten Wajo yang digelar Subdirektorat Pendidikan Berbasis Pengabdian kepada Masyarakat Unhas secara daring, Selasa (23/6).
Mengusung skema tematik inovasi desa, mahasiswa akan menyusun program berdasarkan kondisi nyata di lapangan, mulai dari potensi lokal hingga kebutuhan pembangunan masyarakat.
Koordinator Kabupaten Wajo KKN Unhas Gelombang 116, Dr Ir Andi Sadapotto MP, menegaskan keberhasilan KKN bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dibuat, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu ditinggalkan.
Ia meminta mahasiswa membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat agar program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran.
“Program yang sifatnya lebih banyak ke inovasi dan juga nanti lebih banyak berdampak langsung ke masyarakat itu yang kita utamakan,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi penghubung antara ilmu di kampus dengan kebutuhan masyarakat di desa. Program yang dibuat diharapkan tidak berhenti setelah mahasiswa kembali ke kampus, tetapi dapat diteruskan oleh warga.
Senada dengan itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Wajo, H Ahmad Jahran AP MSi, mengatakan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat pembangunan daerah.
“KKN bukan hanya kehadiran mahasiswa di desa, tetapi bagian dari upaya bersama menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.
Dengan membawa beragam latar belakang ilmu, mahasiswa KKN Unhas diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru bagi desa-desa di Wajo.
Empat kecamatan yang menjadi lokasi pengabdian nantinya bukan hanya menjadi tempat menjalankan tugas akademik, tetapi menjadi ruang lahirnya inovasi yang menjawab persoalan masyarakat. (*)
