SIDRAP β Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan yang muncul hampir setiap tahun di berbagai daerah, termasuk wilayah pedesaan. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini dinilai jauh lebih efektif jika dimulai dari lingkungan masyarakat sendiri.
Kesadaran tersebut mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) Angkatan 69 Posko Desa Lise menggelar Kelas Edukasi Kader JELITA (Jeli dan Tanggap) Demam Berdarah Dengue, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pustu Dusun Dua, Desa Lise, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang itu diikuti 10 kader kesehatan desa. Edukasi dilaksanakan bertepatan dengan kegiatan Posyandu sehingga memudahkan kader untuk mengikuti pelatihan tanpa mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan rutin.
Materi edukasi dibawakan oleh Annisa Trie Oktaviany, mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Umum Universitas Hasanuddin. Melalui program tersebut, mahasiswa KKN berupaya memperkuat kapasitas kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanganan DBD.
Dalam pemaparannya, peserta diberikan pemahaman mengenai gejala awal demam berdarah, fase kritis penyakit, hingga tanda-tanda bahaya yang mengharuskan pasien segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan.
Menggunakan media poster edukatif, materi disampaikan secara sederhana dan interaktif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kader juga dibekali pengetahuan mengenai langkah-langkah penanganan awal yang dapat dilakukan di rumah sebelum penderita mendapatkan pelayanan kesehatan.
Selain itu, peserta mendapatkan informasi penting mengenai kebutuhan cairan bagi penderita demam berdarah, penggunaan obat penurun panas yang aman, serta jenis obat yang sebaiknya dihindari karena berisiko memperburuk kondisi pasien.
Namun fokus kegiatan tidak hanya pada penanganan penyakit. Mahasiswa KKN juga menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk dengan menerapkan gerakan 3M Plus.
Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama penularan DBD.
Para kader juga diajak untuk menjadi penyambung informasi di tengah masyarakat dengan terus mengedukasi keluarga dan warga sekitar mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Sejumlah kader aktif mengajukan pertanyaan terkait kasus demam berdarah yang pernah ditemukan di lingkungan mereka, termasuk langkah penanganan yang tepat ketika anggota keluarga mengalami gejala DBD.
Diskusi yang berlangsung dua arah membuat suasana edukasi menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman langsung di lapangan.
Melalui program JELITA (Jeli dan Tanggap), mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas berharap kader kesehatan Desa Lise semakin siap menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan demam berdarah.
Dengan pengetahuan yang lebih baik, kader diharapkan mampu membantu masyarakat mengenali gejala sejak dini, memahami tanda bahaya yang membutuhkan penanganan segera, serta mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan masing-masing.
Langkah kecil di tingkat desa ini diyakini dapat menjadi bagian penting dalam menekan risiko penyebaran DBD di Kabupaten Sidrap, terutama saat memasuki musim yang rentan terhadap peningkatan populasi nyamuk penyebab demam berdarah.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .

