Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakteristik, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa harus mampu mengenali kondisi lapangan secara utuh agar program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia kampus dan kehidupan masyarakat memiliki dinamika yang berbeda. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan beradaptasi agar dapat diterima dan bekerja bersama masyarakat.

“Ketika berada di desa, mahasiswa harus mampu membangun komunikasi, memahami lingkungan, dan berkolaborasi dengan seluruh unsur yang ada. Dari situlah program yang dijalankan akan memberikan dampak yang lebih luas,” katanya.

Rahman menambahkan, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut dapat melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, hingga berbagai elemen lain yang memiliki peran dalam pembangunan wilayah.

Melalui pembekalan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang sebelum memasuki lokasi KKN. Selain mampu mengimplementasikan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, mereka juga diharapkan dapat menjadi penggerak lahirnya inovasi serta mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Pinrang.

Dengan pendekatan kolaboratif yang diusung tahun ini, KKN Unhas tidak hanya menjadi sarana pengabdian mahasiswa, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mempercepat pembangunan daerah melalui sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. (*)