Ia bahkan melanjutkan dengan kalimat yang menjadi sorotan peserta kegiatan.

“Dan stop bicara lingkungan kalau kita belum mampu memilah sampah dari rumah kita sendiri.”

Pernyataan itu muncul bukan tanpa alasan.

Sebagai kota pesisir, Makassar menghadapi ancaman yang semakin nyata. Mulai dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan ekosistem yang perlahan mulai dirasakan masyarakat.

Munafri menyebut dunia saat ini sedang menghadapi triple planetary crisis atau tiga krisis besar sekaligus: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Menurutnya, Makassar tidak boleh hanya menjadi penonton.

Karena jika lingkungan terus diabaikan, persoalan yang muncul hari ini akan terus datang kembali setiap tahun dengan skala yang lebih besar.

Namun pendekatan yang dipilih Munafri tidak hanya soal larangan dan imbauan.

Ia ingin membangun sebuah siklus baru.

Sampah organik diolah menjadi kompos.

Kompos digunakan untuk urban farming.

Hasil urban farming kemudian memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Dengan kata lain, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah aktivitas, melainkan awal dari manfaat baru.