Makassar, Katasulsel.com – Kota Makassar terus tumbuh sebagai pusat ekonomi terbesar di kawasan timur Indonesia. Gedung-gedung tinggi bermunculan, pusat bisnis berkembang, kawasan perdagangan semakin ramai.

Namun, di balik wajah metropolitan tersebut, ada fakta yang cukup mengejutkan.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 71,63 ribu penduduk Kota Makassar masih masuk dalam kategori miskin pada tahun 2025.

Angka tersebut setara dengan 4,43 persen dari total penduduk Kota Makassar berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Jumlah ini menjadi sorotan karena Makassar merupakan pusat perputaran ekonomi Sulawesi Selatan dengan aktivitas bisnis yang jauh lebih besar dibanding daerah lain.

BPS mencatat, garis kemiskinan Kota Makassar pada Maret 2025 mencapai Rp610.536 per kapita per bulan.

Artinya, masyarakat dengan rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Meski jumlah warga miskin mencapai lebih dari 70 ribu orang, secara persentase Makassar justru termasuk daerah dengan tingkat kemiskinan terendah di Sulawesi Selatan.

Angka kemiskinan Makassar berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang tercatat 7,60 persen.

Namun, persoalan kemiskinan di kota besar memiliki tantangan tersendiri. Biaya hidup yang tinggi, persaingan pekerjaan, keterbatasan akses ekonomi, hingga ketimpangan pendapatan menjadi persoalan yang harus terus dihadapi.

Sebagai ibu kota provinsi, Makassar menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari pekerjaan dan peluang ekonomi. Kondisi ini membuat dinamika sosial ekonomi kota semakin kompleks.

Pertumbuhan pusat bisnis dan investasi memang membuka banyak peluang, tetapi tantangannya adalah memastikan manfaat ekonomi tersebut dapat dirasakan hingga kelompok masyarakat paling bawah.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, persentase kemiskinan Makassar termasuk yang paling rendah. Kota Parepare tercatat 4,44 persen, Sidenreng Rappang 4,91 persen, sementara Wajo berada pada angka 5,86 persen.

Namun dari sisi jumlah penduduk miskin, Makassar menjadi salah satu yang terbesar karena jumlah penduduknya jauh lebih banyak dibanding kabupaten/kota lain.

Data BPS ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari tingginya investasi, pembangunan infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi.

Ukuran sebenarnya adalah ketika semakin banyak warga mampu mendapatkan pekerjaan layak, meningkatkan pendapatan, dan menikmati hasil pembangunan.

Sebab, di balik gemerlap Kota Makassar sebagai pusat ekonomi Sulawesi Selatan, masih ada 71 ribu lebih warga yang menunggu kesempatan untuk keluar dari tekanan ekonomi.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini

Topik: Makassar