Namun secanggih apa pun teknologi yang tersedia, ia menilai kunci utama tetap berada pada kesadaran masyarakat.
Sebab masalah sampah, kata dia, lahir dari kebiasaan sehari-hari.
“Persoalan sampah berawal dari individu. Karena itu perubahan juga harus dimulai dari individu. Mulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lingkungan sekitar, hingga komunitas yang lebih luas,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, menyambut baik kebijakan tersebut. Menurutnya, penghargaan dan lomba lingkungan dapat menjadi pemantik semangat baru bagi masyarakat untuk lebih aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Ia menilai pendekatan seperti ini lebih mudah diterima karena menghadirkan motivasi sekaligus edukasi secara bersamaan.
“Mudah-mudahan program ini menjadi sesuatu yang positif dan dapat terus ditularkan kepada masyarakat sehingga budaya peduli lingkungan semakin tumbuh dan berkembang di Kota Makassar,” kata Helmy.
Jika rencana itu berjalan sesuai harapan, maka November nanti bukan hanya menjadi perayaan ulang tahun kota.
Tetapi juga menjadi panggung bagi mereka yang selama ini bekerja dalam diam menjaga lingkungan.
Mereka yang menanam pohon.
Mereka yang mengolah sampah.
Mereka yang menjaga sungai tetap bersih.
Dan mereka yang percaya bahwa kota yang maju bukan hanya dibangun dengan beton dan gedung tinggi, tetapi juga dengan lingkungan yang terawat dan masyarakat yang peduli. (*)
