SOPPENG, Katasulsel.com — Senin malam, (20/4) itu, bukan sekadar seremoni. Itu momen yang penuh getaran batin.

Sebanyak 387 calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Soppeng resmi dilepas menuju Asrama Haji Sudiang. Mereka tergabung dalam kloter pertama—rombongan awal yang membuka perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

Pelepasan berlangsung di Gedung Serbaguna Lapatau. Suasananya khidmat, tapi juga emosional. Tangis keluarga pecah di sudut-sudut ruangan, mengiringi langkah para jemaah.

Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, hadir langsung melepas rombongan. Ia mewakili Bupati Suwardi Haseng yang tengah berada di Jakarta menghadiri rapat koordinasi bersama Menteri Pertanian.

Di hadapan para jemaah, Selle tidak hanya bicara formalitas. Ia menekankan bahwa momen ini adalah pengantaran doa.

Bukan sekadar melepas, tapi mengantar tamu Allah.

“Semoga seluruh jemaah diberi kelancaran dan kembali sebagai haji mabrur,” ujarnya.

Jumlah 387 orang ini merupakan bagian dari total 961 CJH asal Soppeng yang sebelumnya telah dilepas secara keseluruhan oleh Bupati.

Artinya, Soppeng tahun ini mengirim jemaah dalam jumlah besar. Sebuah indikator bahwa animo berhaji tetap tinggi, meski antrean panjang masih jadi realitas nasional.

Pesan yang disampaikan pun tidak jauh dari hal krusial: jaga kesehatan, jaga sikap, dan jaga nama baik daerah.

Karena di Tanah Suci, jemaah bukan hanya individu. Mereka adalah representasi daerah—bahkan bangsa.

Menariknya, di tengah suasana haru itu, sempat terjadi insiden.

Seorang jemaah perempuan tiba-tiba mengalami kondisi kurang sehat. Keringat dingin, tubuh lemas, dan tanda-tanda gangguan serius mulai terlihat.

Petugas medis langsung bergerak cepat.

Jemaah tersebut tidak dipaksakan ikut rombongan bus. Ia diberangkatkan menggunakan ambulans dengan pendampingan tenaga medis menuju Makassar.

Keluarga menyebutkan, yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit jantung.

Keputusan ini jadi gambaran penting: aspek kesehatan dalam perjalanan haji bukan formalitas. Ini soal kesiapan fisik menghadapi ibadah yang menguras energi.

Wakil Bupati bahkan sempat mengingatkan agar perjalanan ke Makassar dimanfaatkan untuk istirahat. Pesan sederhana, tapi sering diabaikan.

Padahal, fase awal perjalanan justru sangat menentukan kondisi jemaah di tahap berikutnya.

Keberangkatan malam itu akhirnya tetap berjalan lancar. Bus-bus bergerak satu per satu, meninggalkan halaman gedung dengan iringan doa yang tak putus.

Di balik itu semua, ada satu harapan yang sama.

Berangkat utuh.

Pulang pun harus utuh.

Sehat, selamat, dan membawa predikat yang paling diidamkan: haji mabrur. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Cluster Soppeng: Lihat berita Soppeng