Tambang tidak boleh berhenti di tambang
Dulu, kita sering membayangkan pertambangan secara sederhana.
Ambil dari bumi.
Jual.
Selesai.
Sekarang ceritanya berbeda.
Bijih nikel tidak cukup hanya menjadi nikel.
Bauksit tidak cukup hanya keluar sebagai bauksit.
Tembaga tidak cukup berhenti sebagai konsentrat.
Timah tidak cukup sekadar ditimbang dan dikirim.
Karena nilai terbesar justru sering berada beberapa langkah setelah tambang.
Di sanalah kata hilirisasi menjadi penting.
MIND ID menempatkan diri bukan sekadar sebagai perusahaan yang mengurus komoditas pertambangan, tetapi sebagai penggerak rantai nilai mineral dari hulu sampai hilir.
Dan angka-angkanya mulai berbicara.
Pada 2025, MIND ID mencatat pendapatan Rp159,46 triliun. Naik sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laba bersih mencapai Rp29,89 triliun.
Kontribusi kepada negara dan pemangku kepentingan—berupa pajak, PNBP, royalti, serta dividen—mencapai Rp22,6 triliun.
Tetapi angka itu bukan akhir cerita.
Justru di situlah cerita baru dimulai.
Maroef dan pekerjaan yang tidak kelihatan
Maroef Sjamsoeddin masuk ke kursi Direktur Utama MIND ID pada Maret 2025.
Masa jabatannya bukan masa yang ringan.
Harga komoditas bisa naik.
Bisa turun.
Geopolitik berubah.
Permintaan dunia berubah.
Teknologi berubah.
Dan dunia sedang berlomba meninggalkan energi fosil sambil tetap membutuhkan mineral dalam jumlah besar.
Ironis?
Sedikit.
Dunia ingin lebih hijau.
Tetapi untuk membuat kendaraan listrik, jaringan listrik, baterai, panel surya, dan berbagai teknologi energi baru, dunia justru membutuhkan lebih banyak mineral.
Maka mineral strategis menjadi seperti minyak pada masa lalu.
Bedanya, kali ini Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemilik tanah tempat mineral itu ditemukan.
Indonesia ingin menjadi bagian penting dari industri yang lahir setelah mineral itu ditemukan.
Maroef menyebut MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi tidak sekadar berjalan, tetapi menghasilkan manfaat yang terukur bagi ekonomi nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi, dan industri masa depan Indonesia.
Kalimat itu terdengar seperti kalimat korporasi.
Tetapi pekerjaan di belakangnya tidak sesederhana kalimatnya.
Bersambung………………..
