Lihat saja tembaga
Ambil satu contoh.
Tembaga.
Dulu, kita berbicara tentang konsentrat.
Sekarang kita berbicara tentang katoda.
Bahkan sudah mulai bicara tentang produk yang lebih jauh lagi.
PT Freeport Indonesia mengoperasikan Smelter Manyar di Gresik.
Fasilitas itu dirancang mengolah sekitar 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Di tempat lain, tembaga mulai diarahkan masuk ke industri manufaktur.
MIND ID bahkan mengembangkan sinergi dengan Pindad untuk pemanfaatan katoda tembaga dalam produksi brass cup di Gresik.
Kapasitasnya 10.000 ton per tahun.
Rencananya tidak berhenti di situ.
Ada pengembangan batang dan kawat tembaga dengan kapasitas hingga 300 ribu ton per tahun serta pipa tembaga hingga 100 ribu ton per tahun.
Di sinilah makna hilirisasi mulai kelihatan.
Mineral yang semula berada jauh di dalam tanah Papua atau wilayah tambang lainnya, akhirnya bisa masuk ke pabrik.
Dari pabrik masuk ke industri.
Dari industri masuk ke produk.
Dan produk itu bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan kita.
Itulah rantai nilai.
Dari bauksit ke aluminium
Cerita lain datang dari Kalimantan Barat.
Bauksit adalah bahan bakunya.
Aluminium adalah salah satu tujuan hilirnya.
Melalui proyek Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR Mempawah, yang dikembangkan ANTAM dan INALUM melalui PT Borneo Alumina Indonesia, Indonesia membangun kapasitas pengolahan bauksit menjadi alumina.
Kapasitas proyeknya mencapai 1 juta ton per tahun.
Ini penting.
Sebab selama bertahun-tahun, persoalan Indonesia bukan kekurangan mineral.
Kita justru terlalu kaya mineral.
Masalahnya adalah bagaimana kekayaan itu tidak berhenti sebagai kekayaan geologis.
Ia harus berubah menjadi kekayaan ekonomi.
Dan kekayaan ekonomi itu harus berubah lagi menjadi kesejahteraan.
Urutannya panjang.
Tetapi memang begitulah pekerjaan rumah sebuah negara besar.
Bersambung………………..
