Tambang akhirnya bertemu baterai
Cerita yang paling sering disebut tentu nikel.
Karena nikel sekarang tidak lagi hanya soal stainless steel.
Ia juga berkaitan dengan kendaraan listrik dan baterai.
MIND ID bersama anggota grupnya terus membangun rantai pasok mineral strategis, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik.
Pada semester I 2025, ANTAM mencatat produksi bijih nikel 9,10 juta wet metric ton dan penjualan 8,20 juta wet metric ton. Pada periode yang sama, ANTAM juga memulai pembangunan proyek strategis ekosistem kendaraan listrik bersama Indonesia Battery Corporation dan mitra internasional.
Artinya begini.
Tambang tidak lagi berdiri sendiri.
Ada pengolahan.
Ada pemurnian.
Ada bahan baku.
Ada baterai.
Ada kendaraan.
Ada industri baru.
Kalau seluruh mata rantai itu bisa tumbuh di dalam negeri, nilai yang tinggal di Indonesia tentu semakin besar.
Tetapi tambang tidak boleh hanya bicara uang
Ini bagian yang sering terlupakan.
Tambang memang menghasilkan uang.
Tetapi tambang juga menggunakan tanah.
Air.
Energi.
Dan ruang hidup masyarakat.
Karena itu, keberhasilan pertambangan tidak cukup diukur dari laba.
Ada pertanyaan lain:
Berapa banyak lahan yang dipulihkan?
Berapa banyak emisi yang dikurangi?
Berapa banyak masyarakat lokal yang menjadi lebih mandiri?
Berapa banyak anak di sekitar tambang yang bisa sekolah lebih tinggi?
Berapa banyak usaha kecil yang tumbuh?
MIND ID dalam Laporan Keberlanjutan 2025 menempatkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial sebagai bagian dari kerangka keberlanjutan grup. Laporan itu mencakup ANTAM, PTBA, INALUM, dan TIMAH.
Jadi, istilah ESG bukan lagi aksesori laporan tahunan.
Ia semakin menjadi syarat untuk tetap diterima di pasar global.
Sebab dunia sedang berubah.
Pembeli tidak hanya bertanya:
“Berapa harganya?”
Tetapi juga:
“Bagaimana barang itu dibuat?”
Bersambung………………..
